Dolar AS Tertekan, Rupiah Melaju ke Rp17.694: Ini Sentimen Pendorongnya

by

Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Jumat (21/8/2026), kurs rupiah ditutup di level Rp17.694 per dolar AS atau menguat 0,30 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi tersebut naik 54 poin dari penutupan Kamis yang berada di level Rp17.748 per dolar AS. Pergerakan ini menandai penguatan rupiah di tengah perhatian investor terhadap perkembangan ekonomi global.

Penguatan mata uang Garuda salah satunya didorong oleh melemahnya indeks dolar AS. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang berkurang sehingga rupiah memiliki ruang untuk bergerak lebih positif.

Lukman Leong dari Doo Financial Futures mengatakan pelemahan indeks dolar AS menjadi salah satu sentimen utama bagi rupiah. Menurutnya, pasar turut merespons rencana pemerintah AS melakukan pembelian kembali surat utang jangka panjang dalam jumlah lebih besar.

Rencana buyback Treasury tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Apabila yield obligasi jangka panjang AS turun, daya tarik dolar berpotensi ikut berkurang sehingga memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang.

Dari pasar domestik, investor juga mencermati kebijakan Bank Indonesia. Bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam keputusan terbarunya, dengan stabilitas rupiah menjadi salah satu pertimbangan penting kebijakan.

Selain kebijakan suku bunga, data Neraca Pembayaran Indonesia turut menjadi perhatian. Bank Indonesia mencatat NPI pada kuartal II 2026 mengalami defisit US$0,9 miliar, tetapi angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.

Namun, Indonesia masih menghadapi tekanan dari transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan meningkat menjadi US$12,5 miliar pada kuartal II 2026 atau 3,3 persen dari PDB, terutama akibat meningkatnya defisit perdagangan migas dan naiknya impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Di tengah tekanan tersebut, transaksi modal dan finansial memberikan penopang. Pos ini mencatat surplus US$12 miliar pada kuartal II 2026 setelah sebelumnya mengalami defisit US$4,8 miliar pada kuartal pertama.

Pergerakan rupiah juga tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia tercatat menguat terhadap dolar AS pada perdagangan yang sama, menunjukkan sentimen regional turut mendukung mata uang kawasan.

Dengan posisi rupiah yang ditutup pada Rp17.694 per dolar AS, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada pembukaan perdagangan pekan depan. Perkembangan dolar AS, kebijakan pemerintah AS, situasi geopolitik Timur Tengah, serta data ekonomi terbaru akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah penguatan rupiah dapat berlanjut.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.