Dolmai Fianto : Masyarakat Lokal Perlu Dilibatkan Sebagai Ujung Tombak Pariwisata

by -
Dolmai Fianto : Masyarakat Lokal Perlu Dilibatkan Sebagai Ujung Tombak Pariwisata
Dolmai Fianto – Foto : Muharyadi—

SEMANGATNEWS.COM, PARIAMAN – Keterlibatan masyarakat lokal disetiap obyek wisata untuk memperkuat pembangunan sektor pariwisata menjadi hal penting dan strategis guna membangun dan memelihara lingkungan pariwisata secara utuh dan berkesinambungan.

Adanya insfrastruktur memadai, promosi dan iklan digital serta fasilitas yang ditawarkan kepada wisatawan, maka kehadiran masyarakat lokal sebagai ujung tombak menjadi suatu keniscayaan sukses atau tidaknya pembangunan pariwisata di tengah-tengah publiknya.
Pendapat ini dikemukakan seniman, pekerja seni budaya dan wisata, Dolmai Fianto (48 th) kepada semangatnews.com di sela-sela kesibukannya di Pariaman, Senin sore (10/7/2023)

Suasana Festival Tabuik di Pariaman dibanjiri ribuan pengunjung
Suasana Festival Tabuik di Pariaman dibanjiri ribuan pengunjung

Karenanya persoalan mindset atau cara berpikir masyarakat setempat harus menjadi perhatian semua pihak terutama kalangan legislatif dan eksekutif. Karena selain dapat memberikan informasi yang jelas dan terukur tentang obyek dan materi wisata secara sungguh-sungguh, mereka juga diharapkan mampu membantu wisatawan baik domestik maupun asing berkaitan kearifan lokal dan seluk beluk obyek wisata di dalamnya.

Menurut Dolmai, budaya, adat istiadat serta tradisi masyarakat ditengah-tengah arus perubahan dan perkembangan zaman dapat diperkenalkan masyarakat kepada para wisatawan hingga memberikan nilai tambah pariwisata. Kemudian masyarakat sekitar pun turut merasakan benefit dari kedatangan wisatawan yang pada gilirannya dapat mempengaruhi ekonomi mereka sekitar.

Salah satu suasana Pantai Pariaman saat matahari Tenggelam yang sangatr indah
Salah satu suasana Pantai Pariaman saat matahari Tenggelam yang sangatr indah

Pada sisi lain, keterlibatan masyarakat secara langsung didahului pembekalan aspek pengetahuan dan pemahaman terhadap nilai-nilai yang ada oleh OPD terkait atau dari pihak swasta penyelenggara obyek-obyek wisata, pada akhirnya turut mempengaruhi sektor keamanan wisatawan yang berkunjung ke objek-obyek wisata yang selama disinyalir banyaknya oknum-oknum yang memeras wisatawan, memaslukan wisatawan hingga ke benturan fisik.

Di kota Pariaman sendiri mengambil contoh sejumlah destinasi wisata yang berjarak 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) atau 56 km dari pusat kota Sumatera Barat merupakan lokasi paliang ideal untuk dikunjungi, karena menuju kota Pariaman tidak memakan waktu lama untuk kesana. Apalagi kota Pariaman memiliki banyak destinasi wisata seperti laut dan pantai, wisata religi dan budaya seperti tabuik, indang, wisata seni dan budaya didukung pemandangan alam, kulinernya yang luar biasa, ujar Domai Fianto memberi ilustrasi.

Tari Indang di Pariaman
Tari Indang di Pariaman

Salah satu indikasinya tahun 2021 silam di tengah-tengah pandemi covid.19 melanda Indonesia, salah satu desa yakni Apar Pariaman termasuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia dan kecamatan Pariaman Utara, meraih penghargaan TOP 5 Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Terbaik se-Sumbar. Selain itu Pariaman juga pernah meraih prestasi terbaik bukan hanya di Sumatera Barat bahkan di tingkat nasional dengan julukan kota The Sunset City of Indonesia, ujar Dolmai lagi.

Apa yang diperoleh Pariaman tersebut tentulah terus dibenahi dan diperkuat secara berkesinambungan disana-sini, belajar dari kelemahan masa lalu agar pariwisata kota Pariaman benar-benar menjadi sektor unggulan sumber keuangan daerah.

Hal menarik dalam beberapa hari kedepan Pariaman diramaikan lagi kegiatan festival Tabuik menyambut bulan Muharram dan memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Hussein bin Ali bin Thalib yang jatuh pada 10 Muharram dengan mengelar ritual-ritual kisah kematian tragis cucu rasul tersebut dalam perang di Padang Karbala tahun 61 Hijriah. Festival ini bukan iven kecil, tapi merupakan iven besar yang telah masuk dalam kalender paiwisata dengan pengunjungnya melimpah ruang dari berbagai penjuru nusantara, bahkan dari negara tetangga.

Pemerintah sudah saatnya memikirkan, selain kegiatan formal menyambut bulan Muharram setiap tahunnya untuk membuatkan museum tabuik bahkan kalau perlu berupa karya monumental refresentatif lengkap dengan dioramanya yang menggambarkan proses pembuatan tabuik hingga diarak menuju pantai dan dilarung ke laut sehingga masyarakat yang tak bisa hadir sesuai jadwal festival dapat melihatnya melalui museum atau karya monumental yang tentunya disiapkan dan dikerjakan oleh orang-orang profesional dibidangnya, ujar Dolmai Fianto. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.