Doni Saputra, Mengolah Senjata Tradisional Kerambit yang Kaya Nilai-nilai Pamungkasnya

by -
Doni Saputra – Foto : Muharyadi

SEMANGATNEWS.COM, PAYAKUMBUH – Melestarikan dan melindungi kekayaan budaya di masing-masing daerah di tanah air guna memperkuat budaya nasional merupakan pekerjaan mulia sebagai bangsa berbudaya di tengah-tengah masyarakatnya yang kaya akan nilai-nilai lokal sebagai jati diri bangsa.

Apalagi bagi generasi muda saat ini tentulah diharapkan mampu menempatkan diri untuk tetap terus belajar dan mewarisinya kepada generasi berikutnya agar kita tak kehilangan jati diri sebagai bangsa sebagai kekuatan eksistensi budaya lokal di era masyarakat moderen.

Hal itu disampaikan Doni Saputra (48 th) ASN yang juga Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Payakumbuh yang memiliki hobi mengeksplorasi pembuatan senjata tradisional Minangkabau “kerambit” saat ditemui di kediamannya jalan Singa Harau, Kel. Balai Panjang, Kec. Payakumbuh, Payakumbah, Jumat (20/01/22)

Menurut Doni demikian panggilan akrabnya, ia mengenal kerambit sejak usia sekolah dasar persisnya di kelas V dan VI, karena kakek saya saat itu suka membuat pisau minang secara manual dan terbatas bernama kerambit. Saya berpikiran senjata ini tak berguna atau sulit mempergunakannya. Kakek saya sering meletakannya diatas bandua pintu atau dalam peti yang tersusun rapi dan tak boleh asal digunakan.

Kumpulan kerambit karya Doni Saputra – Foto : Muharyadi

Ketertarikan Doni membuat kerambit disebabkan keunikan bentuknya, mulai dari perhitungan : komposisi, proporsi, balance, artistik dan dengan estetika bentuk pisau serta gagang dan sarungnya yang diberi ornamen ragam hias Minangkabau. Dan itu telah saya mulai sejak tujuh tahun silam hingga kini di sela-sela kesibukan di kantor, ujar Doni menceritakan pengalamannya.

Dijelaskan, kerambit yang juga dikenal dengan nama kurambik itu, merupakan senjata unik yang memiliki bentuk serupa pisau genggam berukuran kecil. Bentuk dari senjata ini melengkung. Bahkan sejumlah negara menggunakan senjata tradisional minangkabau sebagai atribut wajib yang digunakan para tentaranya.
Sekalipun senjata tradisional Suku Minangkabau yang satu ini terlihat sangat kecil, namun memiliki kemampuan dalam melumpuhkan lawan ataupun hewan. Artinya dengan menggunakan senjata ini bisa melakukan gerakan yang sangat cepat, karena memang bobotnya yang cukup ringan. Masyarakat suku Minangkabau seringkali membawa senjata ini terutama ketika dalam perjalanan yang jauh dengan tujuan untuk menjaga diri ketika terjadi kejahatan yang tidak diinginkan.

Bentuk kerambit secara umum semuanya hampir sama, namun karena penyebarannya yang luas akhirnya masing-masing daerah memberikan kesan dan motif khusus yang khas, agar terkesan menjadi kearifan lokal di Indonesia diantaranya berbentuk : (1) Kuku Alang (kuku elang), Lawi ayam: Cakar elang / ayam dari Sumatra Barat (2) Kuku Harimau, dari Sumatra Barat, Jawa Barat dan Madura, (3) Kuku Bima, dari Jawa Barat dan Jawa Tengah, (4) Kuku Hanoman, dari Jawa Barat, (5) Kerambit Sumbawa, dari Pulau Sumba, dan (6) Kerambit Lombok, dari Lombok.

Berbekal pendidikan menengah di jurusan seni kriya SMSR (SMK N 4) Padang tahun 1989-1993 dengan mempelajari seni ukir Minang, Doni tertarik menggabungkan motif ragam hias Minang dengan kerambit. Kemudian ketertarikannya terhadap kerambit didasari nilai-nilai pamungkas senjata masyarakat Minang tempo dulu di Minangkabau karena difungsikan sebagai alat pertanian, kadang dipakai untuk menyapu akar, pengumpul batang padi hingga alat mengirik padi.

Melalui kakek saya tambah Doni, diperkuat ilmu pengetahuan dasar saat masih bersekolah, saya terus mengasah kemampuan untuk membuat dan mengerjakan “kerambit” dengan besi berkualitas dan gagang dari kayu tahan lama bahkan ada yang berbahan tanduk kerbau dan sapi. Kemudian memberinya ornamen ragam hias Minangkabau baik pada gagang maupun besi kerambit.

Selama beberapa tahun terakhir, alhamdulillah dalam berbagai kesempatan pameran di Sumatera Barat dan daerah lainnya kerambit yang saya kerjakan ini mampu mencuri perhatian publik menjadi karya seni bermuatan nilai-nilai lokal yang berfungsi sebagai benda hias bernilai seni dan souvenir etalase, ujar Doni yang juga aktif di organisasi pencinta bilah pisau Indonesia (Indonesian Blades Chapter) mengakhiri. (Muharyadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.