Jakarta, Semangatnews.com – Perjalanan karier Bae Suzy dalam drama Korea kerap diwarnai kesuksesan — dari debutnya di Dream High yang langsung menjadikannya idola generasi, hingga serial-serial populer yang membuktikan kematangan aktingnya. Kini, ia menghadapi tantangan baru melalui drama Genie Make a Wish, yang menuai berbagai kritik dari penonton atas gaya aktingnya yang dianggap melemah.
Sejak Dream High, Suzy berhasil memikat hati pemirsa lewat karakter remaja penuh mimpi, yang kemudian bertransformasi ke peran-peran lebih kompleks dalam Uncontrollably Fond, While You Were Sleeping, dan Start-Up, di mana ia memperlihatkan sisi emosi, penderitaan, dan determinasi yang kuat.
Drama-drama tersebut juga membentuk ekspektasi tinggi dari penggemar: bahwa Suzy adalah aktris yang fleksibel dan mampu membawa karakter yang intens. Ekspektasi seperti itu membuat kritik terhadap Genie Make a Wish jadi isu penting karena dianggap tidak memenuhi standar emosional yang sudah terbangun.
Dalam Genie Make a Wish, beberapa adegan dianggap terlalu dramatis atau ekspresif secara berlebihan tanpa penyangga narasi kuat, sehingga sebagian penonton merasa emosi yang ingin dibangun jadi terputus dan karakter sulit dirasakan benar-benar hidup.
Sikap ekstrem penonton terhadap kritik ini memperlihatkan bagaimana popularitas bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi memberi peluang besar, di sisi lain memunculkan tekanan besar agar karya baru selalu sebanding atau lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Beberapa penilai menyebut bahwa Suzy mungkin mengalami tantangan dalam adaptasi gaya aktor baru atau karakter yang sifatnya berbeda dari profil ikoniknya, dan bahwa apresiasi terhadap upaya berbeda ini seharusnya diberikan ruang berkembang.
Di dunia hiburan Korea, kritik publik bukan asing: banyak artis yang pernah dikecam keras ketika mencoba genre berbeda, namun kemudian menemukan pijakan baru ketika karya lebih matang dan suara kritik menjadi referensi untuk pertumbuhan.
Bagi Suzy, menerima kritik dengan kepala dingin bisa menjadi sumber pembelajaran, dan kemungkinan ia akan menentukan proyek selanjutnya dengan pertimbangan karakter yang lebih ‘nyambung’ dengan kekuatannya maupun sinergi dengan penulis dan sutradara.
Penggemar juga diharap memberi dukungan konstruktif, bukan hanya nyinyir, agar Suzy memiliki ruang bernapas dan eksplorasi kreatif tanpa dibebani ekspektasi yang terlalu membelenggu.
Walaupun Genie Make a Wish menuai pro dan kontra, hal ini tidak menghapus reputasi panjang Suzy sebagai aktris berbakat. Malah, tantangan seperti ini bisa menjadi momentum untuk transformasi akting yang lebih matang di era berikutnya — apabila responsnya positif dan ia mampu merespons kritik menjadi bahan peningkatan diri.(*)
