Jakarta, Semangatnews.com – Insiden pembakaran masjid di Tepi Barat oleh pemukim Israel kembali mengundang kecaman keras dari komunitas internasional. Masjid Hajja Hamida di desa Deir Istiya dinyatakan rusak parah setelah diteror dan dibakar oleh sekelompok pemukim pada dini hari kemarin. Menurut para penduduk setempat, serangan itu dilakukan saat area masjid sepi, sehingga kerusakan menjadi sangat signifikan.
Foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan dinding masjid yang dicoret slogan-slogan kebencian berbahasa Ibrani, seperti “kami tidak takut” dan “kami akan membalas dendam”. Selain itu, puing-puing api menyisakan bekas hitam dan kerusakan yang menyayat hati. Bahkan, terdapat laporan bahwa salinan Al‑Quran di dalam masjid ikut dihancurkan dan dibakar.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina dengan tegas mengecam peristiwa tersebut sebagai “kejahatan keji” yang menyerang kesucian tempat ibadah dan simbol agama. Mereka menyoroti betapa tindakan ini tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menodai nilai spiritual bagi umat Muslim.
Tak hanya itu, Gerakan Hamas juga menanggapi serangan ini dengan penuh amarah. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai bukti “kedalaman rasisme” dan kebencian pemukim terhadap umat Islam, sekaligus upaya sistematis untuk mengubah karakter wilayah pendudukan.
PBB menyatakan keprihatinan mendalam. Serangan terhadap tempat ibadah umat beragama dianggap tidak dapat diterima sama sekali. Komunitas internasional diminta untuk memberikan tekanan agar serangan terhadap warga sipil Palestina dan situs suci segera dihentikan.
Sementara itu, pemerintah Yordania ikut memberikan reaksi keras. Mereka menilai bahwa kekerasan oleh para pemukim adalah “perpanjangan kebijakan ekstremis” yang didukung oleh retorika-provokatif dari para pemimpin Israel. Pernyataan itu semakin menegaskan betapa seriusnya dampak diplomatik dari tindakan pemukim tersebut.
Di kalangan negara Eropa, kritik juga meluas. Beberapa pemerintahan menyerukan investigasi segera terhadap para pelaku dan penegakan hukum yang tegas. Mereka mengingatkan bahwa tindakan kekerasan di Tepi Barat bisa memperburuk konflik yang sudah lama berakar di wilayah tersebut.
Bagi warga Deir Istiya, momen pembakaran ini menjadi trauma mendalam. Masjid yang sebelumnya menjadi pusat ibadah dan pertemuan sosial kini berubah menjadi simbol kehancuran dan penghinaan. Banyak dari mereka menyatakan takut dan khawatir serangan serupa akan terjadi lagi.
Tokoh masyarakat lokal menyerukan agar pemimpin dunia tidak hanya mengutuk, tetapi juga memberikan dukungan nyata kepada warga Palestina. Mereka berharap insiden ini menjadi titik balik agar perlindungan terhadap situs-suci umat beragama benar-benar ditegakkan oleh komunitas internasional.
Akhirnya, pembakaran masjid dan Al‑Quran tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis mendalam pada komunitas Muslim di Tepi Barat. Dunia kini dihadapkan pada pertanyaan besar: bagaimana menghentikan eskalasi kebencian dan melindungi nilai-nilai kemanusiaan di tengah konflik berkepanjangan.(*)
