Ekonom Ingatkan Pemerintah, Pelemahan Rupiah Tak Bisa Terus Dikaitkan Faktor Global

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan para ekonom nasional. Sejumlah pengamat menilai pemerintah tidak bisa terus-menerus menyalahkan kondisi global tanpa membenahi persoalan mendasar di dalam negeri.

Ekonom menilai faktor eksternal memang memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, namun kondisi domestik juga memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas rupiah. Ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran pasar disebut menjadi salah satu pemicu pelemahan nilai tukar.

Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah bergerak melemah seiring meningkatnya tekanan pasar global akibat tensi geopolitik dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Namun para analis menilai kondisi tersebut seharusnya bisa diminimalkan jika fundamental ekonomi nasional lebih kuat.

Pemerintah sebelumnya menyebut gejolak global sebagai faktor utama pelemahan rupiah. Akan tetapi, ekonom mengingatkan bahwa pasar juga memperhatikan arah kebijakan ekonomi dalam negeri, termasuk stabilitas fiskal dan kepastian regulasi.

Kebijakan baru pemerintah terkait pengelolaan ekspor sumber daya alam dan pembentukan sejumlah lembaga ekonomi negara juga ikut menjadi perhatian investor. Sebagian pelaku pasar disebut masih menunggu kepastian implementasi kebijakan tersebut.

Selain itu, defisit transaksi berjalan dan kebutuhan impor yang tinggi dinilai masih menjadi tantangan besar bagi stabilitas rupiah. Ketergantungan terhadap arus modal asing membuat pasar keuangan Indonesia rentan terhadap sentimen global.

Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan cadangan devisa dan pengendalian likuiditas di pasar keuangan.

Ekonom menilai pemerintah perlu memperkuat sektor riil dan mempercepat hilirisasi industri agar ketahanan ekonomi nasional semakin kuat. Dengan begitu, Indonesia tidak terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek dari luar negeri.

Di sisi lain, pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas kebijakan ekonomi agar iklim investasi tetap kondusif. Kepastian aturan dianggap sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah situasi global yang tidak menentu.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga barang impor dan biaya produksi industri. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat.

Para ekonom berharap pemerintah tidak hanya fokus pada faktor eksternal dalam menjelaskan kondisi rupiah. Evaluasi terhadap kebijakan domestik dinilai penting agar stabilitas ekonomi nasional dapat dijaga secara berkelanjutan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.