Jakarta, Semangatnews.com – Perekonomian Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan sebesar 5,04% secara tahunan pada kuartal III tahun 2025 menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menandai pertumbuhan yang sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,12%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menyampaikan bahwa meskipun melambat, pertumbuhan 5,04% masih menunjukkan kestabilan di tengah tantangan global dan domestik.
Komponen konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan. Belanja masyarakat tumbuh sekitar 4,89% dan menyumbang lebih dari 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ekspor juga tumbuh signifikan, dengan kenaikan hampir 9,9%, yang menunjukkan bahwa permintaan luar negeri terhadap barang dan jasa Indonesia masih kuat. Sektor manufaktur dan pertanian turut memberikan kontribusi positif, meski industri pertambangan mengalami kontraksi karena pelemahan global.
Di sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan, namun tidak sekuat kuartal sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku usaha masih ada, namun masih ada ruang untuk diperkuat.
Wilayah Sulawesi menonjol dengan pertumbuhan tertinggi di antara provinsi‑provinsi lainnya, mencatat angka sekitar 5,8%, sedangkan Pulau Jawa tumbuh sekitar 5,17%.
Walaupun angka 5,04% menunjukkan performa yang layak, analis mengingatkan bahwa masih ada tantangan ke depan seperti perlambatan ekonomi global, ketegangan perdagangan, dan risiko keuangan domestik yang harus diperhatikan.
Menteri terkait menyebut bahwa pemerintah akan mempercepat realisasi belanja negara produktif dan mendorong sektor yang memiliki efek pengganda tinggi seperti infrastruktur dan digitalisasi untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Dengan hasil kuartal III tersebut, fokus kini bergeser ke kuartal IV untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi nasional bisa mendekati target tahunan yang telah ditetapkan.
Ke depan, perhatian pelaku pasar dan pemerintah akan tertuju pada bagaimana kebijakan fiskal dan moneter mampu menahan tekanan eksternal serta mendorong pertumbuhan yang lebih merata di seluruh sektor ekonomi.
Langkah-langkah proaktif dari pemerintah, termasuk investasi infrastruktur dan dorongan sektor produktif, diyakini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan.(*)
