Emas Pulih dari Level Terendah Dua Bulan, Keputusan The Fed Jadi Penentu Arah Harga

by

Jakarta, Semangatnews.com – Harga emas dunia mulai bergerak naik setelah mengalami tekanan yang membawa nilainya ke level terendah dalam dua bulan. Pergerakan terbaru ini membuat investor kembali memperhatikan prospek logam mulia, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara tersebut.

Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), harga emas ditutup menguat 0,59% menjadi US$4.133,93 per troy ons. Berdasarkan data Refinitiv, harga kembali naik pada Jumat pagi (9/10/2026), mencapai US$4.142,55 per troy ons pada pukul 06.31 WIB.

Kenaikan tersebut terjadi setelah emas mengalami penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya. Koreksi harga mendorong sebagian pelaku pasar mengevaluasi kembali posisi investasinya, sementara investor lain mulai melihat peluang pembelian setelah harga turun dari level sebelumnya.

Kekhawatiran mengenai utang pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang mendukung pemulihan emas. Tingginya beban utang dan potensi pelebaran defisit anggaran dapat meningkatkan perhatian investor terhadap risiko fiskal, sehingga emas kembali dipertimbangkan sebagai instrumen diversifikasi portofolio.

Namun, sentimen positif itu berhadapan dengan tantangan dari pasar obligasi AS. Imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun masih bertahan tinggi, sementara dolar AS juga relatif kuat. Kedua faktor tersebut dapat membuat emas kurang menarik karena logam mulia tidak menghasilkan pendapatan bunga.

Arah suku bunga The Fed menjadi perhatian utama berikutnya. Risalah rapat bank sentral AS memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai kebutuhan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi, termasuk yang dipicu oleh kenaikan harga energi.

Sebagian pembuat kebijakan menilai suku bunga yang lebih tinggi diperlukan untuk mengantisipasi inflasi yang bersumber dari permintaan. Sementara itu, ketidakpastian mengenai besaran dan waktu penyesuaian kebijakan membuat pelaku pasar harus lebih berhati-hati dalam memperkirakan pergerakan harga aset.

Gubernur The Fed Christopher Waller menyebut kenaikan suku bunga tambahan masih berpotensi diperlukan. Meski demikian, ia mengakui bank sentral memiliki ruang untuk menyesuaikan langkah kebijakannya, termasuk mempertimbangkan kemungkinan menahan suku bunga pada Oktober.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch yang dikutip dalam pemberitaan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober diperkirakan sebesar 17%. Sementara itu, peluang kenaikan pada Desember mencapai 81%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar pada saat data dihimpun dan dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi terbaru.

Di luar kebijakan moneter, meningkatnya risiko geopolitik juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis perdagangan energi, memunculkan kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi minyak dan dampaknya terhadap harga energi serta inflasi dunia.

Bagi investor, pemulihan harga emas belum cukup untuk memastikan bahwa tren penurunan telah berakhir. Perkembangan dolar AS, imbal hasil obligasi, keputusan The Fed, dan situasi geopolitik akan menentukan apakah penguatan dapat berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan. Karena itu, keputusan membeli emas perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan kemampuan menanggung risiko.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.