Evelyna Dianita, Srikandi Pelukis Wanita Setia Memvisualkan Wanita dan Bunga di Kanvasnya

by -
Evelyna Dianita, Srikandi Pelukis Wanita Setia Memvisualkan Wanita dan Bunga di Kanvasnya
Pelukis Evelyna Dianita

SEMANGATNEWS.COM, PARIAMAN – Evelyna Dianita, mungkin sedikit dari sejumlah pelukis wanita Indonesia saat ini yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, ternyata masih tetap setia menekuni dunia seni lukis hingga melahirkan karya-karya terbaik.

Betapa tidak, wanita kelahiran Bukiitinggi 13 Juli 1966 tersebut lebih dari tiga puluh dua tahun silam hingga kini tetap saja menekuni dunia seni lukis dengan obyek-obyek menarik.

Hasilnya luar biasa, bukan hanya indah dan menarik, tetapi juga mampu menyuarakan persoalan wanita dilingkungannya tempat ia bermukim dan berkarya yang syarat makna dengan ikonik yang nyaris tenggelam karena arus perubahan dan perkembangan zaman.

Evelyna Dianita, Lah Lakang Dek Paneh, Lah Lapuak Dek Hujan, Cat Minyak
Evelyna Dianita, Lah Lakang Dek Paneh, Lah Lapuak Dek Hujan, Cat Minyak

Saat ditemui di kediamannya, komplek perumahan “Palapa Saiyo” Jln. H. Anas Malik B 8/16, Pasar Usang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Kamis sore 13/07/23, ia memperlihatkan sejumlah karya-karya terbarunya dengan tidak mengabaikan unsur fisik dan psikologis karya.

Menutu pelukis yang akrab dipanggil Nita ini ; ia banyak mengangkat persoalan keseharian di Minangkabau, seperti pesta perkawinan, sosok gender, yang dibuat seindah mungkin dengan menampilkan isen-isen pakaian dan busana Minang. Hal menarik ada dialog dari obyek yang diangkat, serupa saiyo sakato, sairiang sajalan, musyawarah mufakat mencari suatu tujuan atau kebenaran sebagaimana menjadi budaya masyarakat di Minangkabau.

Evelyna Dianita, Adab Kampuang, 140x90cm, cat minyak, 2020
Evelyna Dianita, Adab Kampuang, 140x90cm, cat minyak, 2020

Sapuan kuasnya yang lembut dan obyek-obyek wanita berbaju kebaya dengan beragam bakcround ranah Minang, ada rumah gadang, bendi, perkampungan dan lainnya lahir kepermukaan dan meluncur begitu saja di tangannya.

Dalam dunia kepelukisan, Nita bukanlah muka baru diantara perupa yang ada. Bakat Nita mulai muncul saat ia menempuh pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) sekarang SMK N 4 Padang tahun 1980 an. Ia memang sosok wanita yang tekun dan ulet belajar melukis hingga memberanikan ikut berpameran bersama hingga sekarang.

Sejumlah karya-karyanya lahir kepermukaan tidak terlepas dari hasil pengamatan serta interaksi langsung dengan lingkungan alam sekitarnya berangkat dari pengalaman dirinya. Pengamatan terhadap realitas kondisi terhadap obyek-obyek perempuan di kanvasnya dianggap penting karena berkaitan dengan ide, keinginan dan wilayah kreativitasnya.

Evelyna Dianita, Bunga Mawar, cat, 30x40 cm, 2023
Evelyna Dianita, Bunga Mawar, cat, 30×40 cm, 2023

Yang lahir kemudian kondisi “Realitas” masa lalu dan kekinian menjadi sesuatu yang menarik diangkat kepermukaan. Yang berisikan paparan cerita, tentang cinta, keindahan, curahan hati atau persoalan yang melingkari penciptanya sendiri.

Menyinggung budaya visual yang kuat seperti di Bali dan Yogyakarta, di Minangkabau lebih dikenal dengan tradisi sastra dan cara komunikasi yang lazim disebut petatah-petitih, peribahasa dan metafora yang umumnya mengandung pelajaran bagaimana seseorang berlaku di dunia dan alam semesta ini melalui bahasa kiasan.

Menyimak antara budaya sastra Minangkabau dengan alam Minangkabau dan tradisi yang ada di daerah ini, ternyata para perupa yang ada satu diantaratanya Nita tetap saja setia memvisualkan kepermukaan, perihal budaya musyawarah dan mufakat, gotong royong, tata krama dan sopan santun, hingga berpakaian apalagi bagi kalangan kaum perempuannya yang menjadi tanda atau penanda apakah generasi muda saat ini di Minangkabau masih tetap setia memakai busana sesuai budaya dan adat yang masih berlaku?

Lukisan Evelyna Dianita, Masih Ada Bunga, 30x40 cm, cat minyak, 2023
Lukisan Evelyna Dianita, Masih Ada Bunga, 30×40 cm, cat minyak, 2023

Kongkritnya Nita tetap menyuarakan semua hal hal-hal yang berkaitan dengan budaya melalui visual rupa melalui goresan-goresannya yang lembut dan mempesona dalam ranah estetis. Nita juga menekspoltasi obyek obyek bunga tetap saja mampu merayakan mata penikmat karena keunikan tema, bentuk dan makna yang dimunculkan.

Menurut Nita, setiap karya-karya tidak serta merta hanya berorientasi pada nilai estetis semata, tetapi juga mengangkat, membawa, mengolah dan mencerminkan seperangkat nilai-nilai kebudayaan dan pandangannya sendiri terhadap nilai-nilai yang ada dan munculnya nilai-nilai baru yang mulai hidup, tumbuh dan berkembang, di masyarakat umum maupun masyarakat komunitas seni.

Pada karya-karyanya diketengahkan sejumlah nilai-nilai yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya, dimana pelaku seni berada di dalamnya. (mh).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.