Fadly Amran Mendukung Berdirinya Sekretariat Tambo Arts Center di PDIKM Padangpanjang

by -

SEMANGATNEWS.COM – Wali kota Padangpanjang, H. Fadly Amran, menyambut gembira kehadiran komunitas seni rupa Tambo Arts Center Sumbar dengan memanfaatkan salah satu gedung PDIKM (Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau) sebagai sebagai sekretariat yang daoat dijadikan ruang pameran, ruang pertemuan dan diskusi perupa Sumbar sebagai salah satu bentuk seni dan budaya dengan berbagai sektor pembangunan lain di kota Padangpanjang.

Demikian dikemukakan Fadly Amran saat meresmikan pemakaian gedung PDIKM sebagai sekretariat Tambo Arts Center yang juga dapat berfungsi sebagai ruang pameran, ruang diskusi atau pertemuan para perupa dalam melahirkan ide maupun gagasan-gagasan brilian guna menunjang sektor pembangunan Pariwisata, kebudayaan, perdagangan, perindustrian dan lainnya, di aula PDIKM Padangpanjang, senin sore (30/08/21)

Bahkan keinginan kita malah ingin menarik teman-teman seniman seni rupa “urang awak” yang berada di perantauan seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta dan beberapa daerah guna memikirkan dan membantu Padangpanjang khususnya dan Sumatera Barat umumnya dari aspek seni rupanya, ujar Fadly Amran.

Fadly Amran sebelum Wali kota Padang bahkan hingga kini mengaku memiliki hoby mengoleksi karya-karya seni rupa terutama seni lukis dan beberapa jenis karya lainnya dari perupa urang awak yang saya tempatkan di rumah dinas Wali Kota Padangpanjang termasuk sejumlah karya-karya terbaru dari teman-teman perupa.

Karya-karya tersebut satu demi satu saya perkenalkan kepada setiap tamu yang datang dan berkunjung ke Padangpanjang, ujar Fadly.

Dikesempatan yang sama, tokoh ulama Sumbar dan ketua bidang dakwah MUI Sumbar, Buya Mas’oed Abidin sekaligus menjadi penasehat Tambo Arts Center yang hadir dalam pada peresmian sekretariat Tambo Arts Center menyatakan kegembiraanya atas kolaborasi para pegiat seni rupa Sumbar dengan pihak Pemko Padang Panjang.

“Dahulu Padang Panjang banyak melahirkan orang-orang hebat. Baik di bidang pendidikan, agama, politik dan seni budaya. Marwah itu harus kita kembalikan yang salah satunya melalui kepedulian terhadap seni dan budaya seperti seni rupa yang kini diwadahi Tambo Arts Center,” ungkap Buya.

Sementara ketua Tambo Arts Center Sumbar, Yon Indra dalam laporannya menjelaskan, belum lama ini kami menemui Wali Kota Padangpanjang guna meminta kesediaan Wali Kota agar dapat meminjamkan salah satu satu gedung di komplek PDIKM untuk dimanfaatkan menjadi tempat pameran, ruang diskusi/dialog secara rutin.

“Kato bajawek gayuang basambuik”, Wali Kota Padangpanjang memberi lampu hijau untuk memanfaatkan salah satu gedung refresentatif di komplek PDIKM Padangpanjang yang difasilitasi Tambo Arts Center, ujar Yon Indra yang mengaku telah mengelola Tambo Arts Center bersama teman-teman perupa dari ISI Padangpanjang dan lainnya sejak tahun 2015 silam yang telah berbadan hukum pada tahun 2018 silam.

Pengamat dan kurator seni rupa, Muharyadi, yang diminta komentarnya di sela-sela peresmian sekretariat Tambo Arts Center tersebut menilai, bahwa apa yang dilakukan Pemko Padangpanjang dengan teman-teman perupa Sumatera Barat merupakan salah satu langkah terbaik perihal memajukan seni rupa secara sungguh-sungguh di Sumatera Barat.

Artinya kegiatan seni rupa tersebut tidak terbatas hanya menggelar pameran pada iven-iven tertentu yang selama ini terjadi. Selesai pameran, habis begitu saja tanpa ada tindak lanjut bagaimana sesungguhnya kehidupan seniman dengan karya-karyanya. Bagaimana pula nasib para kriayawan yang telah melahirkan karya-karya kerajinan terbaiknya selama ini?

Karena sejak lama kalangan seniman Sumatera Barat telah kerap mengusulkan pentingnya mendirikan museum seni rupa refresentatif mulai era Gubernur Zainal Bakar hingga beberapa tahun terakhir baik tertulis maupun lisan, tetapi keinginan tersebut mentah di tengah jalan.

Padahal museum seni adalah wadah tempat berkumpulnya karya-karya masterpiece yang pernah dihasilkan perupa nasional asal Sumatera Barat mulai dari era pra kemerdekaan hingga kondisi karya kekenian. Ia juga sekaligus sebagai barometer seni rupa Sumatera Barat di tengah-tengah seni rupa nasional.

Sesuai fungsi strategis museum sebagai wahana pembelajaran bagi generasi muda atau media komunikasi publik, tempat beristirahat otak manusia dari masalah duniawi dengan menyaksikan karya-karya yang kaya dengan estetika dan sarat makna serta nilai-nilai juga turut mendorong minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk melihat karya-karya terbaik yang pernah dihasilkan perupa daerah ini sebagaimana terlihat di negara-negara maju, ujar Muharyadi.

Dilain sisi, Muharyadi menilai karya seni seperti seni rupa salah satunya dapat menjadi medium efektif membangun pengertian antar manusia, selain nilai komersialnya yang tak dapat terelakan demi kehidupan seniman itu sendiri. Seni juga berada di atas banyak persoalan ; seperti isu suku, ras/etnik, ideologi, politik, misalnya yang akan menemukan “ruang dialog” melalui karya seni dengan masyarakat luas, ujar Muharyadi memberi ilustrasi. (SS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.