FATIMAH AZZAHRA, ANTARA OLIGARKI & ALGORITMA
//Di tengah rayuan pulau kelapa, kita seolah hidup di comberan//
Oleh Sunardian Wirodono
Di sebuah negeri yang belakangan terasa semakin gaduh, oleh kebisingan yang bukan hanya datang dari jalanan. Tetapi juga dari layar-layar kecil di tangan kita.
Hoaks diproduksi dan disebarkan seperti barang dagangan, terutama oleh terak-ternak rejim. Bullying dipertontonkan sebagai hiburan. Orang dipaksa memilih kubu. Dan di dunia politik, tekanan dapat datang dalam rupa yang lebih halus maupun lebih kasar. Suap, iming-iming jabatan, fasilitas, proyek. Bahkan pekerjaan menjadi buzzer berbayar.
Medsos, yang semestinya menjadi ruang percakapan public, berubah menjadi pasar pengaruh. Tempat kebenaran kadang kalah oleh siapa yang membayar lebih mahal. Mereka yang mencoba berjarak, da proporsional, selain dihukum oleh algoritma, juga diejek dalam pergaulan medsos. Menulis di medsos itu sia-sia, katanya (sementara yang mengatakan itu rajin memakai medsos).
Pada sisi itu, pertanyaannya: Apa yang masih tersisa dari manusia, ketika pendapatnya dapat dibeli? Keberaniannya dapat ditukar dengan jabatan, dan pikirannya dapat disewa untuk mengatakan apa saja?
*
Kemarin saya melihat postingan bagus, mengenai “Empat Hal yang tak Dapat Dibeli dari Kamu”. Empat kata yang sering disebut SMAC, menemukan maknanya yang lebih serius: Skill, Mindset, Attitude, dan Character. Di Indonesia yang suka aakronim atau singkatan ngawur, disebutnya SMART.
Skill adalah kemampuan yang kita bangun. Mindset adalah cara kita melihat dunia. Attitude adalah bagaimana kita menempatkan diri terhadap kenyataan dan terhadap orang lain. Sedangkan Character adalah apa yang tetap kita lakukan, walaupun tidak ada tepuk tangan, tidak ada kamera, dan tidak ada keuntungan yang menunggu.
Di tengah banjir hoaks, bullying dan politik transaksional, persoalannya bukan lagi sekadar apakah kita pintar atau terampil. Melainkan untuk apa kepandaian itu digunakan.
Skill tanpa karakter, dapat menjadi alat manipulasi. Mindset tanpa sikap yang sehat, dapat berubah menjadi kesombongan. Attitude tanpa prinsip, mudah dibeli. Dan karakter tanpa keberanian, hanya menjadi kata indah, yang kita tempelkan pada diri sendiri, yang suka berpose.
*
Barangkali karena itu, kita perlu kembali belajar menjadi manusia, sebelum sibuk menjadi apa pun. Mau jadi apa kek. Pejabat. Aktivis. Influencer. Buzzer. Perupa. Penyair. Pengusaha. Pecnopet. Atau sekadar pengguna media sosial. Pencari hiburan.
Asalkan: Jangan sampai kita memiliki skill untuk memproduksi kebohongan. Mindset untuk membenarkannya. Attitude untuk menyebarkannya. Dan character (karakter) yang menyerah begitu saja, ketika uang datang mengetuk pintu.
“Act only according to that maxim whereby you can, at the same time, will that it should become a universal law,” begitu ngendikanya Rama Immanuel Kant filsuf Jerman abad pencerahan, 300-an tahun silam. Bertindaklah hanya menurut prinsip yang sekaligus dapat kau kehendaki menjadi hukum universal.
Mungkin sederhana: sebelum melakukan sesuatu kepada orang lain. Tanyakan apakah kita rela dunia memperlakukan kita dengan cara yang sama. Jika jawabannya tidak, mungkin kita memang belum sedang menjadi manusia yang baik. Mungkin, kalau tidak dimakan hukum oligarki, ya, kemakan hukum algoritma.
Karena dengan menjadi manusia seperti itu, negeri ini tidak akan bisa dihancurkan oleh pemimpin yang bodohnya kebangetan, sekalipun bolo-nya banyak banget. Ada masanya.
*
Kalau soal penyebutan nama Fatimah Azzahra, dalam tulisan ini? Tidak ada. Tak ada hubungan. Nama hanya pemanis, karena ia disematkan pada anak manusia yang mengagumkan di medsos kita.
Kemarin dia berdiri di atas mobkom, membela ‘anak-anaknya’, para mahasiswa yang mau menggelar unjuk rasa di Bunderan HI Jakarta. Ia lantang teriak, sembari nuding-nuding Kombes Reynold, “Karena kalian tidak menghargai nyawa kami!”
Keren mahasiswa Kedokteran UI itu. Temen-temennya kuliah, disebutnya sebagai ‘anak-anak saya’. Naluri keibuannya menggetarkan. Yang tidak kagum, apalagi menyebarkan isu dia syiah, yah, pasti dari pendukung rejim.**
#puisi #lentera #merah
#pemulung #cerita #jalanan
#up Puisi lentera merah.
#BEM_UI #Fatimah_Azzahra

