Jakarta, Semangatnews.com – Ambon diguncang peristiwa mencekam saat gelombang tsunami raksasa dilaporkan menghantam kawasan pesisir dan membuat warga berlarian menyelamatkan diri. Suasana panik tak terelakkan ketika air laut tiba-tiba naik dengan kecepatan luar biasa, menyapu apa pun yang berada di jalurnya.
Sejumlah warga mengaku sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersadar bahwa gelombang besar tersebut bukan fenomena biasa. Air laut yang awalnya surut mendadak berubah menjadi dinding air menjulang, menciptakan ketakutan yang sulit dilupakan.
Teriakan minta tolong terdengar di berbagai sudut permukiman pesisir. Warga berusaha menyelamatkan anggota keluarga, sementara sebagian lainnya berlari ke tempat yang lebih tinggi dengan sisa tenaga yang ada.
Beberapa saksi mata menyebut tinggi gelombang mencapai puluhan meter dan menghantam daratan dengan kekuatan luar biasa. Rumah-rumah yang berada dekat garis pantai rusak parah, sementara perahu nelayan terseret jauh ke darat.
Di tengah kepanikan, aliran listrik sempat terputus sehingga membuat situasi semakin gelap dan mencekam. Warga hanya mengandalkan cahaya ponsel dan insting untuk mencari jalan aman.
Seorang warga mengatakan suasana saat itu terasa seperti akhir zaman. Suara gemuruh air bercampur dengan runtuhan bangunan menambah trauma mendalam bagi siapa pun yang mengalaminya secara langsung.
Tim penyelamat dan aparat setempat segera bergerak melakukan evakuasi begitu kondisi memungkinkan. Mereka menyisir wilayah terdampak untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di reruntuhan atau terjebak banjir.
Posko darurat didirikan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. Bantuan logistik mulai disalurkan, mulai dari makanan, selimut, hingga layanan kesehatan bagi korban luka dan warga lanjut usia.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gelombang susulan. Warga diminta tidak kembali ke rumah masing-masing sebelum ada pernyataan aman dari otoritas terkait.
Trauma psikologis menjadi perhatian serius pascabencana ini. Banyak anak-anak dan lansia terlihat syok, sehingga pendampingan psikososial mulai dilakukan oleh relawan dan tenaga medis.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan ancaman bencana alam di wilayah rawan gempa dan tsunami. Kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini kembali disorot sebagai faktor penting untuk meminimalkan korban.
Hingga kini, pendataan kerusakan dan korban masih terus dilakukan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait berkomitmen mempercepat penanganan darurat dan pemulihan agar kehidupan warga Ambon bisa kembali berjalan secara bertahap.(*)
