Greta Thunberg dan Ratusan Aktivis Ditahan, Armada Bantuan Gaza Dicegat Israel dalam Operasi Laut Besar

by -

Jakarta, Semangatnews.com — Sebuah operasi besar angkatan laut Israel kembali memicu kecaman internasional setelah pasukan angkatan laut mengintervensi armada bantuan kemanusiaan yang hendak memasuki Jalur Gaza. Dalam operasi tersebut, setidaknya 13 kapal dalam konvoi “Global Sumud Flotilla” berhasil dicegat, sementara sekitar 30 kapal lain tetap meneruskan perjalanan ke Gaza. Di antara aktivis yang ditahan adalah Greta Thunberg.

Konvoi bantuan ini membawa sekitar 500 aktivis dari lebih dari 40 negara yang membawa bantuan simbolis berupa obat-obatan dan makanan ringan. Armada tersebut berlayar melewati laut internasional dan mendekati perairan sekitar 70 mil laut dari Gaza ketika dihadang oleh kapal perang Israel. Israel menegaskan operasi tersebut sebagai upaya sah dalam menegakkan blokade laut yang telah diterapkan terhadap Gaza sejak lama.

Dalam video yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Israel, Greta Thunberg terlihat sedang dikawal oleh pasukan dan menerima barang-barangnya sebelum diangkut ke kapal pengangkut. Pihak Israel menyatakan bahwa para aktivis, termasuk Thunberg, dalam kondisi “aman dan sehat” dan sedang dibawa ke pelabuhan Ashdod, sebelum nantinya diproses deportasi.

Namun, pihak penyelenggara flotilla menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional — terlebih intersepsi dilakukan di perairan internasional. Menurut mereka, tindakan tersebut tidak semata-mata untuk menghentikan bantuan, melainkan sebagai tindakan represif yang menolak legitimasi misi kemanusiaan tersebut.

Penangkapan aktivis internasional dari negara-negara seperti Spanyol, Malaysia, Turki, dan Italia menimbulkan reaksi keras di berbagai negeri. Protes meletus di sejumlah kota di Amerika Latin, termasuk Bogota dan Buenos Aires, mendorong pemerintah lokal untuk menyuarakan kecaman. Di Spanyol, sejumlah parlemen mengutuk tindakan Israel sebagai bentuk pelanggaran supremasi hukum kemanusiaan.

Sementara itu, Italia sempat mengumumkan seruan untuk melakukan aksi mogok luas sebagai solidaritas terhadap penangkapan ini. Pemerintah Turki juga menyebut intervensi Israel sebagai tindakan terorisme dan mendesak pembebasan segera warga negaranya yang ikut dalam flotilla.

Menurut laporan penyelenggara, dari 13 kapal yang dicegat, lebih dari 201 orang ditahan dan sedang menjalani proses hukum di Israel. Beberapa aktivis ditahan sementara, beberapa lain kemungkinan akan diadili atau langsung dideportasi dalam rentang waktu 72 jam hingga 96 jam ke depan sesuai aturan setempat.

Laporan dari kapal-kapal yang lolos menyebut bahwa kekuatan laut Israel menggunakan taktik pemutusan komunikasi dan penggunaan water cannon untuk memaksa kapal berhenti. Media sosial sempat merekam momen-momen tegang ketika kapal perang mendekat dan peringatan melalui pengeras suara diarahkan ke kapal bantuan.

Meski sebagian besar armada berhasil dicegat, sekitar 30 kapal tetap bertekad menembus blokade dan menuju perairan terdekat Gaza. Para aktivis menyatakan misi tersebut bukan hanya soal penyaluran materiil, melainkan simbolisasi perlawanan terhadap blokade yang telah memicu krisis kemanusiaan di Gaza.

Kini, sorotan dunia tertuju pada bagaimana Israel akan memperlakukan para tahanan, dan apakah jalur diplomasi dapat digunakan untuk melepas mereka. Ke depan, langkah-langkah hukum dan kebijakan negara-negara dalam memberikan tekanan diplomatik akan menjadi penting untuk menguji batas-batas legitimasi intervensi militer terhadap misi kemanusiaan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.