semangatnews.com, Bukittinggi – Hari ini kami dari dinas kebudayaan amat senang dan bangga akan pakai-pakai baju basiba dan tingkuluak yang indah, cantik dan menawan dari penampilan bundo kanduang utusan Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh peserta Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Bundo Kanduang dengan tema Siang Dipatungkek, Malam Dipakalang. Kita mengetahui bahwa peradaban budaya Minangkabau itu sudah tinggi dan hebat sejak dahulunya.
Hal ini disampaikan Gubernur Sumatera Barat yang diwakili, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Syaiful Bahri, SP.MM ketika membuka acara Bimtek Peningkatan Kapasitas Bundo Kanduang di Manapoli Hotel Bukittinggi, Minggu (14 Juni 2026).
Lebih lanjut kepala Dinas Kebudayaan sampaikan, Tingkuluak Bundo Kanduang (atau tingkuluak tanduak) penutup kepala khas perempuan Minangkabau yang menyerupai rumah gadang. Terbuat dari kain selendang yang dilipat tanpa bantuan kerangka, tingkuluak melambangkan mahkota kehormatan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab besar perempuan sebagai tiang keluarga (limpapeh rumah nan gadang).
Syaiful Bahri yang dikenal akrab panggilan Pung ini juga menyampaikan, jangan ragu, bimbang atau malu para perempuan untuk berpakaian busaha ini karena para disainner dunia pun mengagumi pakai bundo kanduang ini dan ada yang memodifnya dalam penampilan fasion dunia.
“Jaga dan lestarikan pakaian bundo kanduang ini, ibu-ibuk, karena ini syarat dengan nilai kepribadian perempuan yang hebat dan menawan. Kepada bundo kanduang juga mesti menularkannya juga untuk anak-anak perempuan kita agar ini juga menjadi benteng moral anak generasi muda kita, bahwa Sumatera Barat yang berfilosofikan ABS – SBK mesti menjadi kepribadian yang hidup dari generasi ke generasi sebagai benteng moral dampak negatif tantangan globalisasi saat ini,” ajaknya.
Pung juga menyampaikan, pentingnya kaum ibu bundo kanduang berbahasa minang kepada anaknya dimanapun berada karena bahasa ibu ( minang) adalah juga menjaga nilai dan budaya kepada anak-anak untuk mereka tahu dan sadar atas keberadaan dirinya, siapa dia dan apa jadirinya budaya dasar ibunya ( matrilinial), karen UUD 1945 menjamin dan pengakuan negara tentang keberagaman budaya itu.
“Berbahasa minang sajalah, ibuk-ibuk dalam kehidupan sehari-hari, karena itu itu akan memberikan kita ruang yang luas bagi anak-anak dan generasi kedepan, karena bahasa minang itu menguasai lebih 30 persen dari pengunaan bahasa indonesia, pandai berbahasa minang maka otomatis ia akan pandai berbahasa Indonesia, pakai berbahasa Indonesia belum tentu ia pandai berbahasa minang,” katanya.

Di kesempatan lain, Anggota DPRD Sumatera Barat H.Irsyad Syafar,Lc.M.Ed juga menyampaikan keluarga adalah benteng moral pertama dalam membina generasi muda, keluarga penjaga nilai agama, sholat, adab dan rasa tanggungjawab. Kedua Anak punya tempat pulang, berbagai cerita dan minta nasehat.
“Ketiga keluarga menjadi tempat teladan, kejujuran dan menjaga pergaulan. Maka perhatian kedua orang tua memiliki peran yang kuat menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi generasi yang terbaik. Bundo Kanduang, ibu tentu memiliki kedekatan yang amat dekat dengan anak, sehingga seorang bundo kanduang pendidik nilai pertama,” ujarnya.
Irsyad juga menyampaikan ada tiga pilar pencegah kontrol sosial bersama yang hangat, adil dan efektif terhadap generasi muda, pertama keluarga, kedua suku atau kaum, ketiga masjid, sekolah dan pemerintah.
“Menjaga nilai-nilai budaya minang peran bundo kanduang tentu bagain yang tidak terpisahkan keinginan besar pemerintah provinsi Sumatera Barat dalam mewujudkan masyarakat Sumatera Barat yang madani dan sejahtera. Untuk kita berharap peran semua komponen daerah menjadi sesuatu kekuatan kontrol sosial untuk meninggalkan kegenerasi yang maju, cerdas, berakhlas, beriman dan bertaqwa,” himbaunya.

Kabid Jarahnitra, Zardi Syahrir,SH.MM dalam kesempatan itu juga menyampaikan, pelaksanaan bimtek penikatan kapasitas bundo kanduang ini merupakan, upaya dinas kebudayaan provinsi Sumatera Barat memberikan tempat dan ruang pembinaan, penambahan wawasan serta keterampilan para bundo kanduang di Sumatera Barat.
“Bimtek peningkatan kapasitas bundo kanduang ini juga menghadirkan narasumber-narasumber yang matang di bidang keahliannya, seperti bunda Raudah Tahib, Kakanwil Kementerian Agama Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, Uztad Budiman, SH, Dt. Malano, Anggota DPRD Sumbar H. Irsyad Syafar.Lc.M.Ed. Tentunya berbagai ilmu dan penambahan wawasan bagi bundo kanduang ini akan juga berdampak dalam memberikan perhatian pembinaan kepada anak dan generasi muda disekitar keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sebagainya,” ujarnya. (*)

