Hanung Bramantyo Soroti Eksploitasi Anak di Industri Film: Dari Trauma hingga Solusi Produksi Ramah Anak

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Sutradara Hanung Bramantyo semakin vokal menyuarakan kritiknya terhadap praktik eksploitasi anak yang kerap terjadi di industri film Indonesia. Hal itu ia ungkapkan saat berbicara tentang pengalamannya dan alasan mengapa ia sempat menjauh dari proyek film anak selama bertahun-tahun. Kritik ini muncul di sela-sela proses pembuatan Children of Heaven versi Indonesia yang tengah ia garap bersama MD Pictures.

Hanung mengaku bahwa pada awal kariernya ia sangat dekat dengan genre film anak, namun pengalaman pahit di lapangan membuatnya trauma. Ia kerap menyaksikan aktor cilik dipaksa bekerja tanpa mempertimbangkan kesejahteraan mereka, mulai dari jam syuting yang panjang hingga bolos sekolah demi urusan produksi.

“Saya melihat banyak anak dipaksa bekerja sesuai standar orang dewasa. Mereka meninggalkan sekolah, dan itu sangat merusak masa kecil mereka,” ujar Hanung saat ditemui media di kawasan Jakarta Selatan.

Saking kuatnya pengalaman itu, Hanung bahkan pernah mendapat teguran keras dari pihak sekolah karena murid yang terlibat dalam proyeknya sering bolos demi keperluan syuting. Insiden tersebut menjadi titik balik yang membuatnya mengambil jarak dari film anak selama bertahun-tahun.

Namun semuanya berubah ketika produser Manoj Punjabi menawarkan proyek adaptasi Children of Heaven, sebuah film legendaris asal Iran yang sarat makna tentang kehidupan dan perjuangan anak-anak. Tawaran itu membuat Hanung kembali mempertimbangkan genre yang dulu sempat ditinggalkannya.

Walau demikian, Hanung mengajukan syarat mutlak: produksi film ini harus benar-benar ramah anak. Ia ingin membuat standar baru produksi yang menjaga hak dan kesejahteraan aktor cilik seperti Jared Ali dan Humaira Jahra yang menjadi pemeran utama.

Untuk mewujudkan itu, Hanung merombak skema kerja kru di lapangan agar jam istirahat para pemain cilik tetap terjaga, terutama pada adegan malam hari. Ia menegaskan bahwa produksi tidak boleh mengikuti pola kerja dewasa yang bisa menguras tenaga dan kesehatan anak.

“Anak harus happy, dan kita tidak bisa paksa mereka mengikuti standar orang dewasa,” kata Hanung menekankan komitmennya pada kesejahteraan para aktor muda tersebut.

Upaya ini kemudian disetujui oleh MD Pictures, yang memberi ruang bagi Hanung untuk menetapkan batasan jam syuting serta waktu istirahat khusus bagi para pemain cilik. Sistem kerja yang baru ini dipandang sebagai langkah progresif dalam industri perfilman nasional.

Kritik Hanung ini sekaligus menjadi refleksi bahwa meskipun industri film terus berkembang, masih terdapat aspek produksi yang perlu ditinjau ulang demi melindungi anak dari eksploitasi. Banyak pihak menyambut baik langkah inovatif yang ia coba terapkan.

Lebih jauh, Hanung berharap Children of Heaven versi Indonesia bukan hanya menjadi film keluarga yang menyentuh, tetapi juga menjadi contoh produksi film sehat bagi pekerja anak di masa depan.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 27 Mei 2026, dan publik serta para pegiat hak anak kini menantikan bagaimana praktek yang lebih etis terhadap aktor cilik akan diimplementasikan di panggung perfilman nasional.

Dengan sorotan yang ia angkat, Hanung tidak hanya berbicara soal seni, tetapi juga menyentuh persoalan etika industri yang penting bagi masa depan perfilman Indonesia.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.