Jakarta, Semangatnews.com – Pasangan ganda putra Indonesia Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin harus mengakhiri perjuangannya di turnamen Korea Masters 2025 sebagai runner‑up setelah kalah dari wakil tuan rumah, Lee Jong Min dan Wang Chan, dalam laga final yang digelar di Iksan, Korea Selatan.
Final tersebut berlangsung tegang sejak game pertama. Raymond–Joaquin mengawali dengan sangat baik dan memenangkan game pertama 21‑16. Namun momentum berpindah di game kedua di mana pasangan Korea tampil lebih agresif dan mampu memaksa pertandingan menuju game penentu dengan skor 16‑21 untuk Indonesia di game kedua.
Memasuki game ketiga, kondisi berubah drastis. Raymond–Joaquin yang sebelumnya tampak mengendalikan pertandingan justru mengalami penurunan performa yang nyata. Pasangan Korea membuka dengan keunggulan besar dan tak bisa dikejar hingga akhirnya menutup dengan skor 21‑6.
Sang partner Indonesia mengakui bahwa lawan bermain lebih sabar dan rapi. “Mereka bermain safe dan sabar lalu ketika ada kans baru menyerang,” ujar Joaquin dalam konferensi pers usai laga. Raymond menambahkan bahwa di game ketiga tenaga mereka hampir habis sehingga sulit untuk mencari poin.
Meski demikian, raihan finalist ini tetap menjadi tolok ukur penting bagi ganda putra muda Indonesia. Mereka membuktikan bahwa dalam waktu singkat telah mampu menembus partai puncak di level BWF World Tour Super 300.
Menurut catatan, pasangan ini berada di peringkat dunia ke‑37 dan menunjukkan progres yang signifikan musim ini. Namun perjuangan mereka hari ini mengingatkan bahwa naik ke podium juara memerlukan lebih dari sekadar kecepatan dan kekuatan, melainkan juga kesiapan mental serta strategi yang matang.
Pelatih dan tim pendukung menilai bahwa kekalahan ini akan menjadi bahan evaluasi penting. Fokus selanjutnya adalah memperkuat pengembalian, variasi serangan, dan menjaga ketenangan saat berada di tekanan tinggi.
Dalam kacamata masyarakat bulu tangkis Indonesia, hasil ini mengundang dua sikap: satu sisi bangga karena Indonesia masih bisa berada di final turnamen internasional, sisi lain kecewa karena gelar juara belum bisa dibawa pulang. Antusiasme publik tetap tinggi terhadap pasangan ini.
Ke depan, Raymond–Joaquin dipersiapkan untuk tampil di turnamen berikutnya dengan tujuan tidak hanya mencapai final, tetapi juga merebut gelar. “Analisis lawan dan persiapan fisik menjadi kunci,” ungkap staf pelatih.
Akhirnya, meskipun gelar juara gagal diraih, perjalanan Raymond–Joaquin hingga ke final Korea Masters 2025 telah memberi sinyal kuat bahwa regenerasi ganda putra Indonesia mulai menunjukkan hasil. Tantangan berikutnya adalah menjadikan final sebagai batu loncatan menuju kemenangan.(*)
