Jakarta, Semangatnews.com – Indonesia memulai paruh kedua tahun 2026 dengan kabar positif di sektor harga. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026 setelah sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.
Deflasi tersebut terutama dipicu oleh turunnya harga bahan pangan seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan jeruk. Melimpahnya pasokan hasil panen membuat harga berbagai komoditas tersebut bergerak turun di pasar.
Secara tahunan, inflasi Indonesia masih berada di angka 2,88 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun mencapai 1,65 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga pada Juli belum mengubah tren inflasi yang secara umum masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah.
BPS menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi bulan Juli. Kelompok ini memberikan kontribusi terbesar terhadap penurunan Indeks Harga Konsumen dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.
Selain pangan, harga emas perhiasan yang mengalami penurunan juga ikut memberikan andil terhadap deflasi. Kondisi tersebut membuat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut mencatatkan penurunan harga selama Juli.
Di sisi lain, sejumlah komponen masih mengalami kenaikan harga. Biaya pendidikan dan beberapa tarif jasa tetap memberikan tekanan terhadap inflasi inti sehingga penurunan harga tidak terjadi secara merata di seluruh sektor.
Bank Indonesia memandang deflasi kali ini merupakan dampak positif dari terkendalinya harga pangan. Menurut bank sentral, kondisi tersebut menunjukkan efektivitas pengendalian inflasi pangan tanpa mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Pelaku usaha dan investor menilai stabilitas harga akan memberikan kepastian lebih baik bagi aktivitas ekonomi. Deflasi yang berasal dari peningkatan pasokan pangan juga dinilai berbeda dengan deflasi akibat melemahnya permintaan masyarakat.
Meski demikian, pemerintah tetap diminta mewaspadai potensi perubahan harga pada bulan-bulan berikutnya. Faktor musim, distribusi logistik, dan kondisi cuaca dapat memengaruhi pasokan komoditas pangan sehingga memicu fluktuasi harga.
BPS menegaskan pemantauan harga akan terus dilakukan untuk memastikan stabilitas inflasi tetap terjaga hingga akhir tahun. Langkah koordinasi dengan berbagai kementerian dan pemerintah daerah juga dinilai penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
Deflasi sebesar 0,14 persen pada Juli 2026 menjadi gambaran bahwa harga sejumlah kebutuhan pokok sedang mengalami penyesuaian ke arah yang lebih rendah. Jika kondisi pasokan tetap terjaga, stabilitas harga diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.(*)

