Harga Kedelai dan Plastik Naik, Perajin Tempe Malang Terancam Gulung Tikar

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Perajin tempe di Kota Malang, Jawa Timur, kini menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya harga kedelai impor dan bahan plastik kemasan. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah perajin mengaku keuntungan usaha terus menurun karena harga bahan baku naik sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Banyak pelaku usaha kecil terpaksa mengurangi ukuran tempe agar harga jual tetap terjangkau.

Harga kedelai impor yang menjadi bahan utama produksi tempe disebut mengalami kenaikan signifikan sejak awal tahun 2026. Selain dipengaruhi nilai tukar dolar AS, kenaikan juga dipicu gangguan distribusi dan kondisi pasar global.

Tidak hanya kedelai, harga plastik pembungkus tempe juga ikut melonjak. Padahal kemasan menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan.

Salah seorang perajin tempe di Malang mengaku biaya produksi kini meningkat hampir 30 persen dibanding tahun lalu. Kondisi itu membuat banyak pengusaha kecil kesulitan mempertahankan usaha mereka.

Sebagian pelaku usaha bahkan mulai mengurangi jumlah produksi harian karena modal usaha semakin berat. Jika sebelumnya mampu memproduksi ratusan papan tempe per hari, kini jumlah produksi harus ditekan demi menghemat biaya.

Para perajin berharap pemerintah segera turun tangan membantu stabilisasi harga kedelai impor. Mereka menilai usaha kecil seperti industri tempe sangat rentan terhadap gejolak harga bahan baku global.

Selain bantuan stabilisasi harga, pelaku usaha juga meminta adanya subsidi atau kemudahan akses bahan baku agar usaha tetap bertahan. Tempe dianggap sebagai makanan rakyat yang sangat bergantung pada industri kecil rumahan.

Asosiasi perajin tempe dan tahu juga menilai kenaikan biaya produksi saat ini mulai mengancam keberlangsungan UMKM pangan tradisional. Jika kondisi terus berlangsung, dikhawatirkan banyak usaha kecil akan tutup.

Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen juga mulai merasakan dampak kenaikan harga bahan baku tersebut. Harga tempe di pasar tradisional perlahan naik dan ukuran produk menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya.

Meski menghadapi tekanan berat, banyak perajin tempe di Malang tetap berusaha bertahan karena usaha tersebut menjadi sumber penghidupan utama keluarga mereka. Mereka berharap kondisi pasar segera membaik agar industri tempe rakyat bisa kembali stabil.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.