Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak dunia turun tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran. Pengumuman yang disampaikan melalui pernyataan resmi Presiden AS ini mengubah sentimen pasar global dan memicu aksi jual besar‑besaran di pasar komoditas energi.
Pergerakan harga terjadi pada Senin (23/3/2026), ketika Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari ke depan, sambil mengisyaratkan adanya pembicaraan diplomatik yang “produktif” dengan Teheran. Pengumuman ini direspons pasar dengan penurunan harga minyak mentah secara signifikan.
Golongan minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama‑sama mengalami koreksi tajam di level lebih dari 10 %, setelah sebelumnya harga sempat melonjak karena eskalasi konflik di Timur Tengah yang membayangi pasokan energi global.
Pasar minyak memang sempat dipacu naik oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan akibat konflik berkepanjangan di kawasan Teluk Persia, di mana Iran menjadi titik pusat ketegangan yang berdampak langsung terhadap rute ekspor minyak utama melalui Selat Hormuz.
Namun langkah Trump yang menunda serangan terhadap fasilitas energi di Iran tersebut memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa risiko gangguan pasokan bisa melemah atau tertunda, sehingga mengikis premium risiko yang selama ini membebani harga minyak.
Reaksi pasar begitu cepat terjadi, dengan Brent turun di bawah level psikologis US$ 100 per barel pada sesi perdagangan awal dan WTI mengikuti tren penurunan yang sama. Pergerakan ini mencerminkan bahwa pasar energi sangat sensitif terhadap berita geopolitik, terutama yang berkaitan dengan kemungkinan eskalasi militer di wilayah penghasil minyak global.
Selain itu, laporan menunjukkan bahwa beberapa trader melakukan transaksi besar sebelum pengumuman Trump, mempertegas adanya reaksi pasar yang dipicu oleh berita tersebut dan ekspektasi penurunan harga yang cepat.
Investor di sektor energi kini mencoba menilai ulang risiko yang terkait dengan konflik yang terus berlangsung antara AS, Iran, dan sekutunya, termasuk Israel. Meskipun jeda lima hari diberikan, ketidakpastian masih tinggi dan dampaknya terhadap harga minyak bisa berubah sewaktu‑waktu bergantung pada perkembangan geopolitik selanjutnya.
Reaksi dari pasar saham juga terlihat positif di beberapa bursa utama setelah penurunan harga minyak, karena sektor energi selama ini menjadi salah satu pendorong inflasi global yang berat bagi berbagai industri.
Namun para analis memperingatkan bahwa penurunan harga minyak bisa bersifat sementara jika konflik kembali memanas atau apabila pasokan energi terganggu lebih jauh, terutama jika Selat Hormuz kembali ditutup atau menjadi zona konfrontasi militer.
Penurunan harga minyak ini juga berdampak pada harga energi di dalam negeri beberapa negara, menawarkan sedikit keringanan bagi konsumen bahan bakar, meskipun faktor geopolitik tetap menjadi tekanan utama bagi kestabilan harga jangka panjang.
Dengan dinamika pasar minyak yang masih sangat bergantung pada geopolitik dan keputusan pemerintah besar seperti Amerika Serikat, para pelaku pasar global kini terus mengikuti perkembangan kebijakan dan strategi konflik di Timur Tengah sebagai indikator utama arah harga minyak selanjutnya.(*)

