Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, meskipun sempat muncul kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan harga ini tercatat mencapai sekitar 2,7 persen, dengan harga minyak menyentuh level US$97 per barel. Lonjakan tersebut menunjukkan pasar masih merespons ketidakpastian geopolitik global.
Meskipun adanya sinyal meredanya konflik, pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi masih menjadi faktor utama.
Salah satu pemicu utama kenaikan harga adalah ancaman terhadap jalur distribusi minyak global, khususnya di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute vital perdagangan energi dunia.
Kondisi tersebut membuat investor tetap mengantisipasi kemungkinan terburuk, termasuk potensi penutupan jalur distribusi minyak yang dapat memicu krisis energi global.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan minyak di tengah pemulihan ekonomi global yang masih berlangsung.
Ketegangan antara Iran dan Israel yang sempat memanas sebelumnya juga turut memperkuat sentimen pasar terhadap komoditas energi.
Di sisi lain, pernyataan politik dari pemimpin dunia turut memengaruhi volatilitas harga minyak. Harapan akan meredanya konflik sempat menahan laju kenaikan, namun belum cukup kuat untuk menekan harga secara signifikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global masih sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Setiap perkembangan baru dapat langsung berdampak pada pergerakan harga.
Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, kenaikan harga minyak ini berpotensi meningkatkan beban biaya impor serta tekanan terhadap anggaran negara.
Selain itu, lonjakan harga minyak juga dapat memicu kenaikan harga bahan bakar dan berdampak pada inflasi domestik jika tidak diantisipasi dengan baik.
Dengan situasi yang masih belum stabil, para analis memperkirakan harga minyak dunia akan tetap bergerak fluktuatif dalam waktu dekat, seiring perkembangan konflik dan kebijakan global yang terus berubah.(*)

