Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan tajam di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Meski sempat menguat pada akhir perdagangan, harga minyak secara mingguan justru tercatat mengalami pelemahan signifikan yang membuat pasar energi global kembali gelisah.
Minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, ditutup di level US$101,29 per barel. Harga tersebut memang naik sekitar 1,23% dibanding hari sebelumnya, namun secara keseluruhan masih mencatat pelemahan dalam sepekan terakhir.
Banyak analis menilai gejolak harga minyak kali ini dipicu oleh perubahan arah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai terlalu zig-zag. Sikap Washington terhadap konflik Iran dan Timur Tengah membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah situasi global.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar sempat memperkirakan konflik di Timur Tengah akan semakin memanas dan mengganggu distribusi minyak dunia. Kekhawatiran terhadap potensi penutupan Selat Hormuz bahkan sempat membuat harga minyak melonjak tajam.
Namun situasi berubah cepat setelah muncul sinyal bahwa ketegangan tidak berkembang sebesar perkiraan awal pasar. Kondisi tersebut membuat banyak bandar dan investor energi mulai melepas posisi spekulatif mereka secara besar-besaran.
Istilah “Trump menipu bandar” ramai digunakan pelaku pasar karena kebijakan dan pernyataan Trump dinilai sering berubah dalam waktu singkat. Pasar yang sebelumnya bersiap menghadapi lonjakan harga minyak justru terkena koreksi mendadak akibat perubahan sentimen global.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global juga ikut menekan harga minyak. Investor mulai khawatir permintaan energi dunia akan melemah jika pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat, China, dan Eropa melambat dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar minyak kini bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat. Setiap pernyataan dari Gedung Putih maupun perkembangan konflik Iran langsung memicu perubahan besar di pasar komoditas global.
Selain faktor geopolitik, aktivitas spekulasi investor besar juga memperbesar volatilitas harga minyak dunia. Sebelumnya sempat muncul laporan mengenai investor kakap yang memasang taruhan ratusan juta dolar terhadap arah harga minyak global.
Kondisi ini membuat pelaku industri energi, maskapai penerbangan, hingga sektor transportasi mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan harga minyak yang sulit diprediksi. Fluktuasi ekstrem dinilai dapat memengaruhi biaya operasional dan harga energi di berbagai negara.
Para analis memperkirakan harga minyak masih akan bergerak liar dalam waktu dekat. Selama ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan Trump belum stabil, pasar minyak dunia diprediksi tetap berada dalam tekanan volatilitas tinggi.(*)

