Hari ke-8 Perang Iran–AS Memanas, Trump Disebut Rugi Rp62 Triliun Sementara Rusia Justru Diuntungkan

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat yang juga melibatkan Israel terus memanas setelah memasuki hari kedelapan sejak serangan pertama dilancarkan. Hingga kini belum ada tanda-tanda meredanya eskalasi militer yang terus memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi dunia.

Rangkaian serangan dan balasan dari kedua pihak terus terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah. Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan, sementara Israel memperluas serangan udara terhadap fasilitas strategis milik Iran.

Seiring berjalannya konflik, sejumlah fakta baru mulai terungkap mengenai dampak perang tersebut terhadap berbagai negara. Salah satunya adalah kerugian finansial yang dialami Amerika Serikat dalam waktu singkat sejak operasi militer dimulai.

Laporan menyebutkan bahwa dalam empat hari pertama perang, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan telah menghabiskan biaya hingga sekitar 4 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp62 triliun untuk operasi militer. Angka tersebut mencerminkan tingginya biaya perang modern yang melibatkan teknologi militer canggih.

Pengeluaran besar tersebut berasal dari berbagai kebutuhan militer seperti operasi udara, peluncuran rudal presisi, mobilisasi armada laut, hingga biaya logistik untuk pasukan yang dikerahkan ke kawasan konflik. Operasi militer skala besar memang dikenal memerlukan anggaran yang sangat besar dalam waktu singkat.

Di tengah meningkatnya biaya perang bagi Amerika Serikat, situasi berbeda justru dialami oleh Rusia. Negara tersebut dilaporkan mendapatkan keuntungan ekonomi tertentu dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Keuntungan tersebut terutama berasal dari lonjakan harga energi global, khususnya minyak dan gas. Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk membuat pasar energi dunia menjadi tidak stabil sehingga harga minyak mengalami kenaikan tajam.

Kenaikan harga energi tersebut secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi negara-negara eksportir minyak seperti Rusia. Dengan harga minyak yang lebih tinggi, pendapatan dari sektor energi berpotensi meningkat meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik militer.

Selain berdampak pada pasar energi, perang Iran dan Amerika Serikat juga memicu gejolak di pasar keuangan global. Bursa saham di berbagai negara mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Konflik ini juga mengancam jalur perdagangan energi penting seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut dapat memengaruhi sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Situasi tersebut membuat banyak negara dan organisasi internasional menyerukan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan. Tanpa langkah de-eskalasi, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar.

Dengan perang yang masih terus berlangsung hingga hari kedelapan, dunia kini menanti apakah konflik Iran dan Amerika Serikat akan segera mereda atau justru berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas dengan dampak ekonomi dan politik yang semakin besar.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.