Pembukaan Festival Lima Gunung Ke-20, 21 Mei 2021 dilaksanakan di Mata Air Tlompak Dsn. Gejayan, Ds. Banyusidi – Kec. Pakis, Kab. Magelang.
Terdapat tiga kata kunci yang menjadi tema besar dalam FLG Ke-20 kali ini, yaitu hari, peradaban, dan desa (Tutur Sutanto Mendut, selaku presiden Komunitas Lima Gunung).
Kirab dimulai dari gapura Dusun Gejayan menuju pusat mata air Tlompak sembari membaca doa dan membakar sesaji yang dipimpin oleh juru kunci mata air tersebut.
Memohon doa kepada leluhur Mata Air Tlompak menjadi ritual pembuka yang dilakukan di depan Sumber Mata Air Tlompak. Setelah prosesi pembacaan doa dan beberapa ritual lainnya, selanjutnya dilakukan basuh suci yang dilakukan oleh Alip, selaku juru kunci Mata Air Tlompak kepada beberapa anggota komunitas lima gunung, mulai dari tokoh merapi, merbabu, andong, sumbing, menoreh, bahkan dari lereng sindoro dan perwakilan rekan media sebagai tamu dalam acara pembukaan FLG Ke-20. Terakhir basuh suci dilakukan kepada presiden lima gunung Sutanto Mendut dan Sih Agung yang berperan sebagai Pranata Cara dalam Festival kali ini.
Setelah prosesi ritual di depan sumber mata air dilakukan, dilanjutkan pidato dan orasi budaya dari masing-masing perwakilan Komunitas Lima Gunung yang masih berada di area Mata Air Tlumpak.
Dalam pidatonya, Riyadi, selaku ketua Panitia Festival Lima Gunung Ke-20 mengatakan bahwa acara ini murni swadaya masyarakat desa dan padepokan wargo budoyo tanpa berbicara seribu-pun. Instalasi daun aren berbentuk cakra menjadi pelengkap panggung alam nan indah, sebagai bentuk peradaban desa yang menjadi bukti kemurnian ciptaan Tuhan. Konsep cakra memiliki filosofi hidup yang selalu berputar, kadang di atas dan sering kali di bawah. Menurutnya, peradaban desa tidak lepas dari perjalanan hidup orang di kota yang akan tetap kembali ke desa, meskipun retorika kehidupan moderen kian berkembang dan menjadi tolak ukur peradaban pada saat ini.
Selanjutnya, dilakukan rangkaian orasi budaya dan pertunjukan seni tari dengan iringan macapat, kenong, rebab, dan suling dari para anggota Lima Gunung sebagai bagian dalam pembukaan Festival Lima Gunung Ke-20. Dimulai dari pembacaan syair berjudul “Matematika Air Desa” oleh Haris Kertorahardjo (Wakil Presiden Komunitas Lima Gunung). Salah satu pesan yang tertangkap bahwa ketika berbicara soal peradaban, desa yang tidak terusik justru sudah sangat maju secara tata krama, hal ini berbeda dengan peradaban menurut perspektif kota yang lebih memilih teknologi sebagai tolak ukur peradaban.
*Dilaporkan oleh: Fajry Sub’haan Syah Sinaga – FBS Universitas Negeri Padang
