HASRIL CHANIAGO;PERSAHABATAN LINTAS BENUA DENGAN SAUDARA MUSLIM BOSNIA

oleh -

HASRIL CHANIAGO;PERSAHABATAN LINTAS BENUA DENGAN SAUDARA MUSLIM BOSNIA

Persaudaraan kadang hanya bisa dirasakan, terpancar dari pandangan mata, sekalipun tak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena perbedaan bahasa. Itulah yang saya alami dengan Bapak Osman Valjevac, seorang saudara Muslim dari Bosnia Herzegovina.

Awal bulan Maret 2017 yang dingin di Masjidil Haram, Mekah, saya shalat Subuh bersebelahan dengan seorang Pak Tua berkulit Eropa. Semula saya tidak tahu orang mana. Jerman, Turki, Rusia, atau dari mana? Yang pasti dia seorang Muslim. Seusai shalat Subuh berjamaah dan berdoa, saya sapa dia: Assalamu’alaikum, Brother.

Dia menjawab salam saya. Lalu saya tanya dalam bahasa Inggris, dia berasal dari negara mana? Saya tidak mengerti kata-kata jawabannya, tetapi rasanya saya pernah mendengar bahasa seperti yang dia ucapkan. Lalu terdengar sebuah kata, nama sebuah negara yang rasanya sangat akrab di telinga saya: Bosnia!

Baca Juga:  Catat! 31 Hari Penting Bulan September 2021, Hari Jantung Sedunia, HUT Radio Republik Indonesia, Hari Pelanggan Nasional, HUT PMI dan Lainnya,

Tak salah lagi. Dia berasal dari Bosnia-Herzegovina. Negara yang sebuah sudutnya dekat Kota Mostar pernah saya kunjungi dari Kota Split (Kroasia) ketika meliput Perang Bosnia bulan November-Desember 1992.

Untuk memastikan dia memang dari Bosnia, saya sebut kata: “Sarajevo?” Dia mengangguk berapa kali dan cahaya matanya berbinar-binar. Kami berjabatan tangan lagi.

Baca Juga:  Rasanya Saya Pengin Kembalikan Izin Masjid At Tabayyun Ke Gubernur DKI: Catatan Ilham Bintang

Lalu tanpa tahu apakah dia juga bertanya, saya sebutkan saya dari Indonesia. Eh, tiba-tiba matanya makin berbinar-binar bahagia. “Jakarta?” tanya Pak Tua sekitar 70 tahun itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.