Jakarta, Semangatnews.com – Sistem pembayaran QRIS yang dikelola oleh Bank Indonesia (BI) mencatat capaian luar biasa. Nilai transaksi QRIS dan sistem pembayaran digital lainnya mencapai sekitar Rp 60.000 triliun, menjadikannya salah satu pertumbuhan tercepat di dunia.
Gubernur BI menyampaikan bahwa Indonesia kini menjadi negara dengan ekonomi digital yang tumbuh sangat cepat, dan sistem pembayaran digital seperti QRIS menjadi pusat transformasi tersebut.
Lebih dari 37 miliar transaksi digital per tahun tercatat, mencakup berbagai kanal mulai dari mobile banking, internet banking, hingga QRIS. Nilai transaksi keseluruhan sistem pembayaran digital pun telah mencapai sekitar Rp 520 ribu triliun.
Dalam pidatonya, BI menyebut bahwa transaksi sistem pembayaran digital yang nilainya Rp 60.000 triliun merupakan bagian dari angka yang lebih besar, yaitu ekonomi dan keuangan digital yang sedang berkembang pesat.
Peningkatan pesat ini tak lepas dari penetrasi teknologi yang semakin luas, baik di kota besar maupun daerah, serta adopsi yang cepat oleh UMKM dan dunia ritel yang mulai menerima pembayaran QR‑code secara massal.
Meski pertumbuhan tinggi, BI juga mengingatkan bahwa tantangan keamanan siber, literasi digital dan perlindungan konsumen tetap harus diperkuat agar pertumbuhan ini tidak menimbulkan risiko baru.
Analis mengatakan bahwa Indonesia kini berada di persimpangan penting: pertumbuhan digital yang cepat memberi peluang besar, namun juga memperbesar eksposur terhadap risiko seperti penyalahgunaan sistem pembayaran atau gangguan teknis.
Perusahaan fintech dan bank semakin giat mengeksplorasi integrasi layanan QRIS ke dalam aplikasi, pembayaran transportasi, hingga e‑commerce, memanfaatkan momentum pertumbuhan tersebut sebagai kesempatan untuk inovasi.
Pemerintah dan regulator menargetkan bahwa hingga 2030 transaksi digital akan naik hingga empat kali lipat, dengan volume transaksi mencapai sekitar 147 miliar transaksi dan nilai yang sangat jauh lebih besar dari saat ini.
Dengan capaian ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu pemimpin dalam transformasi pembayaran digital. Namun konsistensi, keamanan sistem dan pemerataan akses akan menjadi kunci agar pertumbuhan inklusif dapat terwujud.(*)

