Indonesia di Tepi Jurang.

by -

Oleh: Awaluddin Awe

Dinamika politik di Indonesia cenderung memanas. Pemicunya tak lain adalah pemilihan presiden dan wakil presiden. Disebabkan pasangan capres dan cawapres yang maju hanya dua, maka Indonesia sekarang terbelah menjadi orang Jokowi dan simpatisan Prabowo.

Apa boleh buat. Tuntutan politik memang begitu. Filsafat politik memang mengharuskan pemilih calon pemimpin terbelah, sehingga tau siapa mendukung siapa.

Bahwa kemudian bangsa ini akan terbelah, pecah dan berada di pinggir jurang, tak ada satu teoripun yang bisa menjelaskan mengapa harus seperti itu benar kejadiannya.

Saya melihat demokrasi pemilihan ini sudah memberikan ketidaktenangan lagi. Setiap hari orang berdebat, memfitnah, membully, menjelekan dan merendahkan martabat sesamanya. Nyaris seperti masa kanak kanak dulu.

Politik di Indonesia, akhirnya memang seperti anak anak. Jika disakiti dia sebut nama bapak temannya dengan kurang ajar, atau melemparkan kotoran ke wajah mamak kawannya. Benar benar sangat tidak dewasa sama sekali.

Sikap dan cara berpolitik seperti ini tidak berubah sejak negeri ini sampai jaman now. Sepertinya demokrasi itu dibutuhkan sebagai sarana saling melemparkan fitnah dan kekejian semata.

Indonesia bergerak ke barat

Dengan apa yang sudah terjadi saat ini. Tampak sekali bahwa sistim politik kita memang sudah bergerak ke barat, yakni condong kepada negara barat. Padahal Indonesia ini negeri timur. Negeri yg lahir dan tumbuh dengan nilai nilai luhur.

Agama yang dulu sangat dihargai dan dihormati, sekarang sudah bergeser menjadi alat politik, mesin politik, penentu kemenangan politik. Agama sudah dicampur aduk menjadi satu kekuatan baru dalam politik, termasuk politik capres.

Jika ada yang mengingatkan supaya agama tidak dibawa bawa dan ulama kembali ke surau, sontak suara perlawanan menggelagar. Padahal sejak republik ini ada, tak pernah satu kalipun kaum agama itu berkuasa. Politik agama itu hanya dimanfaatkan, bukan dipakai untuk mendapatkan kekuasaan sesungguhnya.

Kaum agama kini pun dibelah menjadi dua, diaduk aduk supaya berbeda pendapat, lalu saling hujat dan saling hina. Umat dan ulama saling dibenturkan.

Politik kini sudah hampir kembali menjadi “Panglima”. Bahkan, menurut saya sudah hampir pula menjadi “presiden”, karna sudah mengkatrol seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ekonomi kita benar benar sudah menjadi kapitalisme, liberalisme dan dikuasai kaum beruang. Mereka kini juga sudah hampir menguasai negara. Negara kita, kini benar benar sudah di pinggir jurang.

Negara harus diselamatkan. Tetapi itu tdk gampang. Kita harus memilih kepercayaan kepada siapa utk menyelamatkan negara ini, sebab pilihan itu hanya dua. Yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, calon presiden 2019 2023.

Kita sangat berharap sekali ini, pilihan itu tidak akan pernah salah lagi. Sebab jika masih salah, negeri ini dikuatirkan masuk ke dalam jurang kehancuran. Kita sudah melihat seperti apa sebuah negara tiba tiba hancur dan hilang dari peredaran pergaulan bangsa.

Mereka harus berjuang keras membangun kembaki pondasi bangsa mereka, sebab sudah hancur akibat perbedaan pendapat, anak dari demokrasi, yang bapak ibunya mengajarkan kebebasan berpendapat sebagai ajaran dan ideologi.

Sudah saatnya kita melihat dinamika pemilihan sebagai suatu hal biasa dan normal normal saja, tanpa harus mengorbankan harga diri bangsa dan jatidiri rakyat yang bermoral dan bermertabat.

Dirgahayu bangsa dan negaraku, Indonesia tanpa pecah belah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.