Jakarta, Semangatnews.com – Indonesia tengah bersiap memasuki babak baru dalam sejarah transportasi udara dengan diterapkannya teknologi Advance Air Mobility (AAM) pada tahun 2026. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan bahwa sistem transportasi berbasis drone besar ini akan segera diuji dan dioperasikan secara komersial untuk mengangkut penumpang maupun logistik.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan, pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus untuk memastikan kesiapan infrastruktur, regulasi, hingga aspek keamanan penerbangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya modernisasi transportasi nasional menuju efisiensi dan konektivitas lintas wilayah yang lebih cepat.
Penerapan AAM menjadi terobosan penting, terutama bagi wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang selama ini mengalami keterbatasan akses transportasi. Dengan penggunaan drone berukuran besar, mobilitas logistik dan penumpang di daerah-daerah terpencil diharapkan bisa meningkat signifikan.
Sebagai langkah awal, Kemenhub telah melaksanakan uji coba pertama drone kargo listrik DF-L100 di Bandara Kertajati, Jawa Barat. Drone hasil kolaborasi Dreamfly Indonesia dan perusahaan teknologi Tsingfly asal China ini menjadi tonggak awal transformasi udara Indonesia.
DF-L100 memiliki kapasitas angkut hingga 150 kilogram dengan jangkauan terbang mencapai 140 kilometer. Kemampuannya membuka peluang besar bagi peningkatan efisiensi pengiriman logistik di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, industri, hingga bantuan kemanusiaan.
Selain untuk kargo, teknologi AAM nantinya juga akan dikembangkan untuk angkutan penumpang. Pemerintah menargetkan penerbangan komersial pertama dapat dilakukan pada Desember 2026, setelah seluruh regulasi dan standar keselamatan rampung disusun.
Menhub Dudy menyebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pionir mobilitas udara modern di kawasan Asia Tenggara. Kondisi geografis yang terdiri atas ribuan pulau membuat penggunaan drone penumpang menjadi solusi strategis untuk efisiensi waktu dan biaya.
Pemerintah juga tengah menyiapkan roadmap pengembangan AAM hingga 2035 yang mencakup investasi teknologi, kerja sama industri, serta pembentukan ekosistem pendukung seperti bandara vertikal atau vertiport.
Jika berjalan sesuai rencana, implementasi AAM akan membawa Indonesia menuju era baru transportasi berkelanjutan. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, teknologi ini diharapkan mampu mendukung agenda Net Zero Emission 2060.
Langkah ambisius ini menandai keseriusan Indonesia dalam beradaptasi terhadap revolusi teknologi penerbangan global. Dengan kombinasi antara inovasi dan regulasi yang matang, Indonesia berpotensi menjadi negara pelopor mobilitas udara masa depan di kawasan regional.(*)
