Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memanas setelah Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) melontarkan ancaman langsung kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pernyataan keras itu muncul di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
IRGC menyatakan bahwa pihaknya akan terus memburu Netanyahu jika pemimpin Israel tersebut masih hidup. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media resmi mereka sebagai respons atas perkembangan terbaru dalam konflik Iran dan Israel.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut Netanyahu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap Iran. Mereka menegaskan tidak akan menghentikan upaya mengejar pemimpin Israel tersebut.
Ancaman ini muncul di tengah rumor yang beredar mengenai kondisi Netanyahu setelah sejumlah serangan dan operasi militer yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Namun pemerintah Israel menegaskan bahwa Netanyahu masih hidup dan tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin negara.
Konflik antara Iran dan Israel memang meningkat tajam sejak serangan besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut memicu rangkaian balasan militer yang terus berlanjut hingga saat ini.
Sejak operasi militer itu dilancarkan, Iran dan sekutunya disebut terus melakukan berbagai serangan balasan, termasuk penggunaan rudal dan drone ke sejumlah wilayah yang dianggap terkait dengan Israel maupun sekutunya.
Situasi tersebut membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam ketegangan tinggi. Sejumlah negara bahkan mulai meningkatkan kesiagaan militer untuk mengantisipasi meluasnya konflik.
Ancaman Iran terhadap Netanyahu juga dinilai sebagai bagian dari perang psikologis dan propaganda yang kerap terjadi dalam konflik geopolitik di kawasan tersebut.
Meski demikian, pernyataan keras itu menunjukkan betapa dalamnya permusuhan antara kedua negara yang selama bertahun-tahun berada dalam konflik terbuka maupun tersembunyi.
Para pengamat menilai, retorika semacam ini berpotensi memperkeruh situasi yang sudah sangat tegang dan dapat memicu respons militer lebih lanjut dari pihak Israel.
Dengan kondisi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dunia internasional terus menyerukan agar kedua pihak menahan diri demi mencegah perang regional yang lebih besar.(*)

