Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengumumkan kebijakan baru terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut menandai dimulainya fase baru dalam konflik kawasan yang selama ini melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya.
Dalam pesan resminya, Khamenei menegaskan bahwa Iran akan menerapkan sistem pengelolaan baru terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Ia menyebut kebijakan ini sebagai langkah untuk menciptakan stabilitas sekaligus melindungi kepentingan regional dari campur tangan pihak luar.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena menjadi titik distribusi utama minyak global.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati wilayah ini, sehingga setiap kebijakan yang diberlakukan Iran berpotensi berdampak luas terhadap ekonomi global.
Dalam perkembangan terbaru, Iran juga dikabarkan tengah menerapkan sistem baru yang mengharuskan kapal-kapal yang melintas untuk mengikuti aturan tertentu.
Bahkan, laporan menyebut adanya wacana penerapan biaya atau tol bagi kapal yang ingin melintasi selat tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kontrol penuh Iran atas jalur laut strategis tersebut sekaligus respons terhadap tekanan dari negara Barat.
Khamenei juga secara tegas menolak kehadiran Amerika Serikat di kawasan Teluk, menyebutnya sebagai pihak yang tidak memiliki hak di wilayah tersebut.
Kebijakan ini muncul di tengah konflik yang telah berlangsung sejak awal 2026, yang memicu gangguan besar terhadap jalur perdagangan global.
Akibatnya, lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun drastis dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Dengan situasi yang semakin kompleks, langkah Iran ini dipandang sebagai titik awal eskalasi baru dalam konflik internasional yang belum menunjukkan tanda mereda.(*)

