Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Israel mengancam akan melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza jika Hamas tidak mematuhi syarat-syarat perjanjian gencatan senjata yang tengah berjalan. Pernyataan ini disampaikan seiring pembicaraan intensif antara kedua pihak serta tekanan diplomatik dari negara-negara mediator.
Menurut pejabat pertahanan Israel, kelanjutan konflik bisa terjadi jika Hamas gagal menyerahkan jenazah tahanan yang masih berada di wilayah Gaza atau menolak pembebasan tahanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan tukar guling.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataannya menegaskan bahwa kegagalan Hamas untuk memenuhi kewajibannya akan memaksa militer Israel melanjutkan serangan dengan tujuan “melumpuhkan infrastruktur militer Hamas secara menyeluruh.”
Dalam kesepakatan awal yang difasilitasi AS, Hamas telah menyerahkan sejumlah jenazah tahanan dan membebaskan sebagian tawanan hidup. Namun Israel menilai bahwa laju dan skala penyerahan belum memadai dan berlangsung terlalu lambat.
Hamas membalas tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa kondisi medan yang hancur dan keterbatasan peralatan menahan mereka untuk mengambil jenazah yang masih terkubur di reruntuhan. Mereka menyebut bahwa beberapa mayat sulit ditemukan dan dievakuasi karena kondisi keamanan.
Sumber diplomatik menyebut bahwa perselisihan terkait tema penyerahan jenazah telah menjadi batu sandungan utama dalam menjaga gencatan senjata. Kedua belah pihak saling menyalahkan pelanggaran pasokan gencatan senjata masing-masing.
Israel, dalam langkah strategisnya, juga sedang mempersiapkan pembukaan kembali perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir untuk pergerakan orang. Namun sejak awal perlintasan itu belum digunakan untuk pengiriman bantuan besar-besaran.
Perawatan kemanusiaan di Gaza tetap berjalan dari perlintasan Kerem Shalom dan jalur internal lain. Meski demikian, akses bantuan dinilai masih sangat terbatas dan belum menjangkau seluruh wilayah Gaza yang hancur.
Sejumlah negara mediator, termasuk Mesir dan Qatar, berupaya menengahi agar ketegangan ini tidak melebar menjadi konflik terbuka kembali. Mereka mendorong agar proses pertukaran dan penyerahan terus dilakukan sesuai jadwal.
Masyarakat sipil di Gaza kini menghadapi dilema berat: antara harapan perdamaian dan ketakutan konflik yang kembali membara. Kondisi pasca pertempuran sebelumnya sudah meninggalkan luka mendalam pada infrastruktur dan kehidupan warga.
Dengan ancaman Israel kembali berperang, masa depan gencatan senjata saat ini tampak rapuh. Kecepatan Hamas dalam memenuhi komitmen dan kemampuan mediator menjaga keseimbangan akan sangat menentukan apakah konflik berlanjut atau perdamaian bisa bertahan.(*)
