Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Israel dilaporkan memilih menahan diri setelah kritik tajam disampaikan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance terkait sikap sejumlah pejabat Israel atas nota kesepahaman (MoU) dengan Iran.
Kritik tersebut menjadi sorotan karena disampaikan secara terbuka dan menyentuh isu sensitif mengenai hubungan strategis antara Amerika Serikat dan Israel.
JD Vance dalam pernyataannya menekankan bahwa Israel perlu mempertimbangkan kembali langkah-langkah politiknya, terutama yang berpotensi memperkeruh hubungan dengan Washington.
Ia juga menyinggung kontribusi besar Amerika Serikat dalam dukungan militer kepada Israel, termasuk pembiayaan persenjataan yang digunakan dalam berbagai operasi keamanan.
Pernyataan itu memicu reaksi beragam di dalam lingkaran politik Israel, dengan sebagian pihak disebut terkejut atas nada kritik yang disampaikan secara langsung oleh pejabat tinggi AS.
Laporan media lokal menyebutkan bahwa pemerintah Israel saat ini memilih untuk tidak merespons secara publik guna menghindari eskalasi diplomatik lebih lanjut.
Kondisi ini memperlihatkan kehati-hatian Tel Aviv dalam menjaga hubungan dengan Washington, yang selama ini menjadi mitra strategis utama dalam isu keamanan regional.
Di sisi lain, ketegangan muncul di tengah perdebatan internasional mengenai MoU antara Amerika Serikat dan Iran yang dianggap dapat mengubah keseimbangan politik di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah pengamat menilai sikap diam Israel bisa menjadi strategi diplomasi untuk meredam ketegangan sementara sambil menunggu perkembangan komunikasi tingkat tinggi antara kedua negara.
Namun, tekanan politik internal di Israel juga disebut meningkat karena sebagian elite menilai kritik tersebut sebagai sinyal potensi pergeseran dukungan Amerika Serikat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi tambahan dari kedua pihak, namun situasi ini terus dipantau karena dinilai dapat memengaruhi arah hubungan Israel–AS dalam jangka menengah.(*)

