JEJAK JURNALISTIK (3)
Mengapa saya bisa mendapat rumah di Wisma Warta (Ulak Karang, Padang? Padahal hanya 20 rumah di komplek itu dihuni oleh para senior jauuuuh di atas saya. Ada yg sudah bekerja di pers lebih dari 50 tahun (Kasuma, pinpinan umum Haluan). Selebihnya “raksasa2 pers Sumbar”, seperti Nasrul Siddik, Anas Lubuk, A. Pasni Sata, Basril Djabar, Rusli Marzuki Saria, Salius St Sati, Beny Aziz, Yulius Amadin dll. Kisah diawali th 75, empat tahun setelah saya bekerja di Singgalang. Ada tes yg diadakan LP3ES, lembaga LSM yg berpengaruh di Jakarta yg Direkturnya adalah Ismid Hadad. Peserta tes tenyata tidak hanya wartawan yunior seperti saya, banyak juga wartawan senior. Saya disuruh ikut oleh Trio Pimpinan, Nasrul Siddik, Salius St Sati dan Basril Jabar. Semula saya enggan ikut, karena merasa “belum level”. Wartawan Senior di Singgalang (Mukhlis Sulin) ‘marah’. “Masa mantan Ketua Dewan Mahasiswa IKIP ndak punya nyali. Jangan takut, ayo ikut!,” ujarnya. Saya pun ikut. Ada 25-an wartawan yg ikut dari seluruh Sumbar. Padahal jatah tiap provinsi hanya 2 wartawan. Pengujinya dari Jakarta. Mungkin untuk menjaga kualitas sekaligus netralitas! Yang lulus Nasrul Jalal (wartawan setengah senior dari Haluan) dan… saya! “Anda, Insya Allah, dididik untuk jadi Pemimpin Redaksi dimasa depan” ujar Ismid Hadad saat pembukaan acara di Aula LP3ES di Jl. Jambu, saat itu. (Th 1987 – 1989, saya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Semangat, Padang). Tiga bulan dididik LP3ES dengan dosen para “raksasa” pers Indonesia saat itu: Rosihan Anwar, Jakob Utama, Amir Daud, Gunawan Muhammad, dll. Lalu dari Deppen (Kementerian Penerangan RI). Ada 30-an peserta dari berbagai provinsi (kebanyakan Jawa dan Sumatera, yg kota2nya sudah memiliki surat kabar). Ternyata para raksasa pers Indonesia itu memberikan penilaian siapa saja peserta terbaik. Pengumuman dimulai dari bawah. Terbaik III Sumaryadi, dari harian Merdeka, Semarang. Terbaik II (saya lupa). Terbaik I Makmur Hendrik. Kami yg bertiga berbaris di pentas Aula Kementerian Penerangan untuk menerima hadiah. Saya mendapat sebuah mesin tik dan tiket wisata ke Bali (pesawat dan hotel 3 malam). Hadiah yg luar biasa bagi kami saat itu. Ke Bali saya membawa isteri dg biaya kami sendiri. Ada cerita unik di Bali. Saya jengkel melihat turis wanita, umnya dari Eropah, berkolor kecil saja. Malah ada yg tanpa bra. “Awas ya!! Kalau saya ke negeri kalian kelak, saya juga akan telanjang dada” rutuk saya separoh berdoa dan jengkel. Usai penataran, dari hotel saya kembali ke Wisma Perwakilan Sumbar di Matraman Raya. Disana bertemu Gubernur Pak Harun Zain. Saya ingin melapor hasil penataran kepada beliau. Sebab yg mengongkosi saya ke Jakarta adalah beliau, Pemprov Sumbar. “Hai Hendrik (begitu biasanya beliau menyapa saya), selamat ya! Saya sudah baca anda Peserta Terbaik se Indonesia. Luar biasa, selamat..” ujarnya sambil menyalami saya. Rupanya LP3ES sudah membuat relis tentang hasil penataran, kemudian menyebar relis itu ke seluruh Indonesia. Saya mengucapkan terimakasih sambil mengatakan akan ke Bali bersama isteri. Sekali lagi beliau mengucapkan selamat. “Ini untuk belanja ala kadarnya di Bali. Pulang ke Padang nanti temui saya di kantor” kata beliau. Begitulah, setelah pulang ke Padang saya menemui beliau di Kantornya. Sekali lagi dia mengucapkan selamat. Lalu menulis memo, memberikan kepada saya sambil menyuruh ke Bagian Umum. Di hadapan beliau saya baca memo itu, menyuruh Bagian Umum membelikan saya sebuah honda (sepeda motor). Saat itu Pemprov memang memberikan penghargaan ‘ekstra” berupa sebuah sepeda motor bagi para “pemenang” tingkat nasional. Umumnya yg mendapat adalah atlet PON yang meraih medali emas. Untuk Perak dan Perunggu berupa sejumlah uang. “Terimakasih banyak pak Gubernur. Tapi maaf, kalau boleh saya minta tukar dengan tanah perumahan di Wisma Warta, pak” ujar saya. “Oh, boleh. Memangnya Hendrik sudah punya keluarga..” ujar beliau. “Sudah pak.. ” jawab saya. Dia kembali menulis memo. “Berikan ini ke pak Hasan Basri Durin..” ujarnya merujuk nama Walikota Padang. Saya menerima memo itu sambil meletakkan memo pertama tentang penyerahan honda di mejanya. “Bawa saja memo itu keduanya..” ujar beliau. Artinya, saya akan mendapat honda plus tanah seperumahan. Tapi saya tak mau serakah mengambil keduanya. Memo honda tetap saya kembalikan ke meja beliau, sambil sekali lagi mengucapkan terimakasih. Itu kisahnya mengapa sebagai wartawan paling yunior saya mendapat tanah perumahan di Wisma Warta, Ulak Karang. Rumah2 di Wisma Warta itu, termasuk rumah saya, dibangun oleh kontrakror ug ditunjuk oleh Assuransi Jiwas Raya. Kami mencicilnya tiap bulan dengan memotong gaji. Lalu bagaimana dengan sumpah saya saat di Bali? Sumpah bahwa saya akan balas dendam bertelanjang dada bila berada di Eropa? Eeh..sebelas tahun setelah saya berdoa dan bersumpah itu (1986) Tuhan ternyata mengabulkan doa saya. Th 1985 dan 1986 saya berada di London untuk sebuah program. Diakhir program th 1986 isteri saya datang/menyusul ke London. Kami sempat melihat parade pergantian pengawal Istana Ratu Elizabeth oleh pasukan tradisional kerajaan. Berbaju merah dengan selempang kulit bersilang di dada ke pinggang, topi waja model khusus dari bahan stenlis steel berjambul merah. Celana putih dengan sepatu hitam sampai ke lutut. Naah, usai melihat pergantian pengawal Istana Ratu Elizabeth yg bernama Bukingham Palace yg megah itulah saya ingat sumpah saya saat di Bali th 1975! Akan membalas bertelanjang dada bila saya berada di Eropa. Kalau kita menghadap ke Istana, setelah halaman dan pagar istana ada jalan raya. Di kiri Istana juga ada jalan raya setelah pagar Istana dari besi yg tingginya sekitar dua meter, bercat warna perak. Setelah jalan di kiri Istana itu ada.taman yg luas sekali. Taman luas ini ditumbuhi pohon yg tingginya antara 4 sampai 7 meter. Setelah pergantian Pengawal Istana, kami menuju taman di kiri istana tersebut. Di sana ternyata orang sudah cukup ramai. Mereka, lelaki den perempuan, pada celingak celinguk sambil sesekali menunjuk ke Istana. Saya yakin mereka juga turis, seperti kami. Naah, di taman itu, saya memenuhi sumpah saya. Saya memberikan tustel ke isteri saya, lalu membuka baju. Isteri saya berteriak “manga ko?” ujarnya dalam bahasa turis. Saya membelakangi Istana, lalu bicara kepada isteri yg sudah memegang tustel merk NIKON. “Kodak, nampakkan Istana…” Isteri saya, mau tak mau, lalu memoto saya yg bertelanjang dada! Beberapa turis memperhatikan kami sambil senyum simpul. Saat itu musim semi, kalau tak salah. Bagi orang Eropa itu adalah musim yg cukup panas. Tapi, bagi orang2 seperti saya yg datang dari Asia Tenggara, pakai jaket tebal saja dinginnya sampai ke tulang. Apalagi tanpa baju seperti saya saat itu. Tapi, demi memenuhi sumpah, apa boleh buatlah “Lu pikir lu aja yg bisa telanjang dada di negeri gua. Gua juga bisa berbuat yg sama di negeri lu!” ujar saya sambil eksen saat dijepret istri. Pret. Pret…pret! Rasain lu!!@

