Jakarta, Semangatnews.com – Potret terbaru dari udara memperlihatkan skala kehancuran akibat banjir bandang yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Aliran air dan material longsoran menghantam wilayah pegunungan dengan kekuatan besar hingga mengubah sejumlah kawasan permukiman menjadi medan penuh lumpur dan puing.
Bencana tersebut terjadi pada Rabu (26/8/2026) setelah material es dan batuan dalam jumlah besar runtuh dari kawasan Himalaya. Runtuhan itu kemudian masuk ke sungai dan menghasilkan banjir bandang yang menyapu wilayah di sepanjang aliran.
Kerusakan terlihat di berbagai titik, mulai dari rumah warga, jalan raya, jembatan hingga fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi jalur penghubung Nepal dengan Tibet kini sulit dijangkau akibat infrastruktur yang rusak parah.
Kondisi tersebut membuat proses pencarian dan evakuasi korban menjadi semakin berat. Tim penyelamat harus bergerak melalui medan yang dipenuhi lumpur dan material longsoran, sementara sejumlah akses darat tidak lagi dapat digunakan.
Hingga Jumat, jumlah korban tewas di Nepal telah mencapai sedikitnya 469 orang. Selain itu, lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang, sehingga jumlah korban berpotensi kembali bertambah seiring pencarian terus dilakukan.
Situasi serupa terjadi di wilayah Tibet. Pemerintah China mengerahkan personel untuk melakukan evakuasi dan penanganan darurat, sementara ratusan wisatawan serta warga lokal telah dipindahkan dari kawasan yang dianggap berbahaya.
Di tengah operasi pencarian, muncul ancaman baru berupa danau yang terbentuk akibat material longsoran. Danau tersebut menampung air dalam jumlah besar dan menjadi perhatian serius karena apabila bendungan alaminya jebol, kawasan di bagian hilir dapat kembali diterjang banjir.
Risiko tersebut membuat operasi penyelamatan sempat dihentikan. Petugas harus memastikan kondisi di sekitar danau cukup aman sebelum kembali memasuki sejumlah kawasan yang terdampak paling parah.
Bencana juga berdampak terhadap masyarakat yang berada jauh dari pusat kejadian. Kerusakan jalan membuat kendaraan bantuan kesulitan mencapai sejumlah lokasi, sementara kebutuhan terhadap makanan, tempat tinggal sementara, dan layanan kesehatan terus meningkat. Palang Merah memperkirakan sekitar 93.000 orang terdampak oleh bencana tersebut.
Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan personel untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Helikopter juga digunakan untuk menjangkau wilayah yang terisolasi, termasuk mengevakuasi orang-orang yang masih terjebak di kawasan pembangkit listrik tenaga air.
Tragedi Nepal-Tibet kini menjadi salah satu bencana besar yang kembali menyoroti kerentanan kawasan Himalaya. Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan di wilayah pegunungan dapat mempercepat perubahan gletser dan meningkatkan risiko runtuhnya es maupun batuan. Penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini dinilai penting agar masyarakat di kawasan rawan memiliki waktu lebih panjang untuk menyelamatkan diri ketika tanda-tanda bencana mulai terdeteksi.(*)

