Oleh : Muharyadi
SEMANGATNEWS.COM, PADANG – Dunia seni rupa di Sumatera Barat bukanlah merupakan sesuatu yang baru lahir dan datang mendadak begitu saja. Sejak lama, persisnya pra kemerdekaan dan sesudahnya bahkan hingga kini karya-karya seni rupa terbaik para seniman terus saja mengalir kepermukaan. Sejarah turut membuktikan semua itu, didukung pula sejumlah instituti lembaga pendidikan seni serta serta komunitas yang ada.
Aktivitas berkarya, berpameran dan berkarya lagi, merupakan pemandangan umum dalam berbagai ruang dan waktu. Dalam kurun beberapa dekade belakangan banyak kegiatan pameran seni rupa digelar di Sumatera Barat yang dijadikan agenda penting bagi Sumatera Barat. Baik di galeri Taman Budaya, maupun di beberapa titik kota/kabupaten di daerah ini.

Seperti digelar Dinas Kebudayaan melalui UPTD Taman Budaya Sumbar, Komunitas Tambo Art Center di PDIKM Padangpanjang, Rumah Ada Seni (RAS), Matrilini. Komunitas Gubuak Kopi, Komunitas Dangauseni, Sanggar Nagari, Sanggar Kampung Nelayan serta pameran rutin ISI Padangpanjang dan seni rupa, FBS UNP Padang, ditambah SMK Sumbar kelompok seni budaya
Artinya semangat berkarya, memperlihatkan frekwensi cukup tinggi ditandai dengan banyaknya lahir karya-karya terbaik dalam perspektif budaya di tengah-tengah masyarakatnya.

Karya-karya tersebut tentu bukan hadir begitu saja kepermukaan, tanpa perjuangan dan pergulatan seniman dalam menggali, menyiasati dan mengungkapkan nilai-nilai kepermukaan baik dari aspek tema/konsep, bentuk dan makna karya. Semuanya tidak terlepas dari hasil pengamatan dan interaksi lingkungan seniman dan alam sekitar, berangkat dari pengalaman masing-masing.
Realitas yang ada dihadapan baik masalah sosial, kemiskinan, ekonomi, politik, budaya atau masalah keseharian menjadi menarik diwacanakan. Kepekaan terhadap realitas bagi seniman menjadi teramat penting untuk melahirkan karya-karya terbaik. Mengingat konsep berkarya seni rupa identik dengan pengamatan terhadap realitas, baik datang dari dalam maupun luar diri sendiri.

Semua biasanya didahului menuangkan konsep karya dengan menggores-gores sejumlah sketsa di atas kertas atau kanvas. Dari banyak sketsa terdapat beberapa pilihan hingga mengerucut menjadi satu pilihan berdasarkan hasil analisis aspek visual dan konseptual. Usai tahapan ini, ekspresi diri seharusnya sudah cukup untuk dituangkan ke dalam karya.
Seiring perkembangan dan perubahan zaman, seni juga mengalami berbagai perubahan dan dinamika. Ketika berbicara mengenai seni memang tak akan ada batasan tersendiri dan tak akan habis-habisnya untuk dibahas atau didiskusikan, karena seni merupakan wujud ekspresi dalam menumpahkan imajinasi yang mungkin saja berisikan paparan cerita, tentang cinta, tentang keindahan, curahan hati atau persoalan yang melingkari pencipta karya seni.

Mematung atau menciptakan karya seni lainnya bukan hanya sebatas menuangkan ide/imajinasi kepermukaan menjadi karya, tanpa menyentuh substansi konsep dan makna karya secara utuh. Konsep dapat ditelisik dari persoalan hakikat seni rupa, serta aspek-aspek lain. Makna simbol merupakan representasi pencipta, misalnya apa yang ditawarkan kepada penikmat hingga pemahaman karya benar-benar komunikatif antara karya seni dan penikmat.
Karya-karya seniman seni rupa di Sumatera Barat dengan segala kelebihan dan kekurangannya sesuai sifatnya lebih manusiawi dan tidak diragukan lagi. Karena rata-rata seniman seni rupa yang berpameran, berkarya dan berpameran lagi setidaknya telah memiliki pengalaman empiris terhadap apa yang direspon dan direfresentasikan kepermukaan.
Menyoal perjalanan seni rupa selama timbul pertanyaan kita, dari kegiatan pameran seni rupa selama ini yang pernah terjadi dan ada di Sumatera Barat ; “seberapa banyak karya-karya terbaik hasil penjelajahan kreativitas seniman dikoleksi kolektor atau pemprov, pemkab/pemkot sebagai aset berharga di masing-masing OPD?
Hal ini pulalah yang belum terjawab dengan pasti hingga saat ini. Karena di Sumatera Barat baru ada kegiatan pameran, berkarya dan pameran lagi. Kalau pun ada dikoleksi karya-karya terbaik, lebih kepada hubungan person antara seniman dan pengoleksi karya seniman itu sendiri di luar kegiatan pameran itu pun jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari.
Bagaimana pun seniman adalah manusia biasa yang butuh hidup dan kehidupan. Butuh kembali membeli alat dan bahan berkarya selanjutnya melahirkan karya-karya terbaru. Karena berkarya dan berpameran kemudian berkarya lagi merupakan suatu hal yang lumrah, namun mengapa tidak diimbangi transaksi di dalamnya.
Padahal sebelum Gubernur dan Wakil Gubernur priode Mahyeldi dan Audy Koinaldy sekarang, melalui stackholder yang ada seringkali ada himbauan, ajakan bahkan diperkuat rekomendasi Gubernur dan Wakil Gubernur, agar OPD, BUMD dan BUMN yang ada di Sumatera Barat turut mengoleksi karya-karya terbaik para seniman sebagai aset berharga masing-masing OPD dan BUMD dan BUMN. Tetapi kondisi realitas di lapangan belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Kita cukup prihatin dengan kondisi ini di tengah-tengah bermunculannya muka-muka baru, karya-karya baru yang terus bergulir kemudian menjadi barang tak berguna dan tak memiliki nilai di daerahnya sendiri.
Dulu jauh-jauh hari pernah ada wacana mewujudkan museum seni di Sumatera Barat lokasinya di Kota Padang. Dengan catatan karya-karya yang layak masuk museum dikoleksi pihak museum. Tapi wacana tersebut redup begitu saja di tengah-tengah hingar bingarnya pembangunan sektor lainnya.
Tak salah kiranya muncul istilah bagi seniman seni rupa sejak lama bahkan hingga kini ; Rumah tampak jalan indak tantu, angan lalu faham tatumbuak. Artinya seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu, tetapi tidak mendapat jalan dan pengetahuan untuk mencapainya
Karena itulah tak heran sesungguhnya, jika kerangka berfikir dan sudut pandang atau paradigma kita terhadap kesenian — seperti seni rupa — tetap saja berbeda dan bersilang jauh melalui hasil perjalanan kesenian sebagai entitas yang teramat kongkrit sekaligus abstrak dalam peradaban manusia. Dan pikiran kita pun sering mendua, bahwa disuatu sisi seni rupa kehadirannya sangat dibutuhkan sebagai bagian budaya yang ada selama ini, namun disisi lain kehidupan para senimannya dibiarkan redup tanpa ada solusi terbaik mengatasinya. Lihat berapa banyak seniman yang semula kreatif dan produktif berkarya, tiba-tiba tenggelam begitu saja. (***)
Muharyadi, Pengamat seni rupa, jurnalis dan kurator tinggal di Padang
.
