Keluhan Nelayan Muaro Gantiang: “Lah ka Balakang Suok Kami”!

by -

Keluhan Nelayan Muaro Gantiang: “Lah ka Balakang Suok Kami”!

SEMANGATNEWS.COM. Mereka, sekitar 100 KK nelayan Muaro Gantiang dan sekitarnya, Kelurahan Parupuk Tabing, Koto Tangah, Padang,  Sumatera Barat, memang bukan korban langsung banjir bandang dan galodo besar akhir November lalu.

Tapi akibat ribuan kubik material, terbanyak kayu gelondongan, menutupi pantai mulai dari Air Tawar sampai Muaro Gantiang dan Ujung Batu. Mereka tidak bisa melaut sudah lebih 20 hari sejak 20 November 2025 sampai hari ini, 10 Desember. Mulanya sampai 27 Novemner tak bisa melaut karena setiap hati selalu hujan badai. Lalu tanggal 27 November terjadi bencana itu, ribuan kubik lumpur dan kayo gelondongan menutup pantar mereka dan mengurung puluhan bagan, payang, dan perahu nelayan.

“Bagaimana kami mau melaut, bagan, payung dan perahu kami dihalangi beribu-ribuk kubik kayu,” kata Edi Boro, salah satu nelayan Pantai Muaro Ganting (Pantai Mogan, Parupuk Tabing), kepada Wartawan Senior Hasril Chaniago yang juga tinggal di situ.

Lebih 20 hari tak bisa melaut, artinya tidak ada pencaharian, bagaimana mau hidup. “Lah ka balakang suok kami, pak. Indak ado nan ka dimakan lai,” kata Syafri, nelayan yang lain.

Tidak ada bantuan? “Mungkin kami tidak dianggap korban, karena tidak kena langsung. Tapi bapak lihatlah, kami kehilangan mata pencarian,” kata Edi Boro menambahkan.

Ia menunjuk 9 payang berjejer tak bisa turun ke laut karena dihalangi balok-balok kayu dan gelondongan. Beberapa payang dan perahu bahjan ada yang dindingnya dihantan kayu bulat.

Mulanya mereka coba bergoro memindahkan kayu2 itu. Ada pula yang menyewa chain saw untuk memotong kayu2 itu lalu dijadikan papan. Yang lebih kecil jadi kayu api. Berharap ada yang mau membeli, misalnya pengusaha rumah makan. Harganya Rp250 ribu per pikap L-300. Tapi hanya sedikit yang laku.

Melalui RT dan RW mereka sudah melapor ke Kantor Kelurahan Parupuk Tabing. Berharap dapat bantuan untuk menyambung hidup. Yang datang hanya 2 alat berat dari Dinas Kebersihan untuk menyingkirkan kayu2 tersebut. Tapi setelah lebih seminggu, nyatanya pantai Mogan masih penuh kayu gelondongan. Bagan, payang dan perahu nelayan masih belum bisa didorong ke laut.

“Kalau pun bisa turun ke laut, untuk beli solar sudah tidak ada uang. Bahkan untuk makan sudah tak ada,” kata Januar, nelayan yang lain lagi.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.