Jakarta, Semangatnews.com – Fenomena baru yang menyita perhatian sosial di China mengungkapkan realitas yang cukup mengejutkan: banyak lansia kini mengalami kecanduan internet akut yang berasal dari rasa kesepian yang berkepanjangan. Di tengah perubahan sosial dan demografis cepat di China, tidak sedikit warga lanjut usia yang merasa terisolasi dari keluarga serta komunitas, sehingga beralih ke dunia digital sebagai pelarian — namun dampaknya justru menciptakan masalah kesehatan mental dan fisik yang serius.
Kisah banyak lansia yang terus terhubung secara online dimulai dari hal sederhana seperti menonton video, bermain gim, atau mengobrol di media sosial. Awalnya aktivitas digital ini memang memberi hiburan dan rasa terhubung, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari anak‑cucu atau yang tidak lagi aktif secara sosial. Namun seiring waktu, penggunaan internet oleh sebagian lansia berubah menjadi pola yang berlebihan, bahkan kompulsif.
Para ahli kesehatan mental di China menyebutkan bahwa kecanduan internet di kalangan lansia bukan hanya soal durasi waktu yang dihabiskan secara online, tetapi juga karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Lansia sering kali merasa kesepian ketika anak‑cucu sibuk bekerja atau ketika teman sebayanya berpulang. Internet menjadi ruang alternatif yang mudah diakses untuk mengisi kekosongan itu.
Pakar sosiologi China menekankan bahwa perubahan struktur keluarga juga berperan penting. Di era urbanisasi dan migrasi besar, banyak anak muda meninggalkan kota asal demi pekerjaan, meninggalkan lansia yang tidak selalu memiliki dukungan sosial yang kuat di tempat mereka tinggal. Fenomena migrasi internal ini mempercepat perasaan terasing yang kemudian terproyeksi melalui penggunaan internet yang berlebihan.
Kondisi ini kemudian memunculkan pola perilaku yang mirip kecanduan di kalangan lansia. Banyak dari mereka yang kehilangan kendali atas waktu penggunaan perangkat digital, mengalami gangguan tidur, penurunan aktivitas fisik, serta peningkatan perasaan cemas ketika tidak terhubung ke internet. Bahkan, beberapa kasus melaporkan bahwa rasa cemas ini muncul ketika kontak digital terputus.
Sebagian lansia yang kecanduan internet juga melaporkan efek kesehatan fisik seperti nyeri leher, gangguan penglihatan, dan kelelahan kronis akibat terlalu lama menatap layar. Psikolog yang menangani kasus‑kasus ini menyatakan bahwa dampak psikososial sering disertai dengan gejala fisik yang nyata, menandakan bahwa kecanduan digital tidak bisa dipandang sebelah mata.
Di sisi lain, keluarga lansia pun sering merasa khawatir tetapi bingung menghadapi kondisi ini. Banyak anggota keluarga yang tidak memahami betul apa yang sebenarnya terjadi sehingga cenderung mengabaikan perubahan perilaku lansia. Upaya pendekatan keluarga sering kali berakhir dengan konflik atau penolakan karena lansia merasa bahwa internet adalah satu‑satunya cara untuk merasa terhubung dengan dunia luar.
Organisasi sosial di beberapa kota di China mulai merespons masalah ini dengan menyediakan center komunitas yang fokus pada interaksi sosial offline. Program seperti kegiatan bersama, klub hobi lansia, serta dukungan psikososial kini digalakkan untuk menawarkan alternatif yang lebih sehat dibanding sekadar menghabiskan waktu setiap hari di dunia maya.
Para ahli juga menyerukan agar pemerintah dan masyarakat memperhatikan fenomena ini sebagai isu kesehatan masyarakat. Penelitian lanjut diperlukan untuk memahami hubungan antara kesepian, penggunaan digital, dan kesejahteraan lansia dalam konteks demografis China yang menua dengan cepat. Kebijakan yang mendukung integrasi sosial dan kesehatan mental lansia dianggap sangat dibutuhkan.
Tidak sedikit pihak yang juga mengangkat pentingnya pendidikan literasi digital yang lebih sehat bagi lansia. Alih‑alih hanya fokus pada kemampuan menggunakan teknologi, pendidikan ini juga perlu mencakup penggunaan bijak, pemahaman miskonsepsi kecanduan, serta strategi mengembangkan jaringan sosial di luar dunia digital.
Kasus lansia yang kecanduan internet akut ini sebenarnya bukan fenomena unik di China saja. Negara‑negara lain dengan populasi lansia yang besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa juga menghadapi tantangan serupa. Namun di China, kondisi ini makin mendapat sorotan karena kombinasi cepatnya urbanisasi, pergeseran nilai keluarga, dan adopsi teknologi digital yang masif.
Dalam banyak diskusi komunitas, lansia sendiri mengakui bahwa internet semula memberi mereka rasa hiburan dan kebersamaan. Namun ketika jejaring sosial offline melemah, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi membuat internet menjadi pelampiasan, bukan solusi jangka panjang. Para lansia berharap ada lebih banyak ruang untuk bertemu secara nyata, berinteraksi dan merasa diakui secara sosial.
Fenomena kecanduan internet di kalangan lansia ini kemudian menjadi refleksi penting tentang bagaimana masyarakat modern harus menyesuaikan diri terhadap dinamika sosial yang berubah. Tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana membangun komunitas yang inklusif dan mendukung kesejahteraan seluruh anggotanya — termasuk mereka yang telah lanjut usia.(*)
