Jakarta, Semangatnews.com – Ketahanan pangan Indonesia dinilai tetap kuat di tengah tekanan global, dengan mayoritas kebutuhan masyarakat mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri. Kondisi ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut bahwa sebagian besar komoditas pangan pokok strategis tidak lagi bergantung pada impor. Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan produksi domestik.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa kekuatan tersebut terlihat dari dominasi hasil produksi lokal dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Dari total sekitar 10 komoditas pangan strategis, hanya tiga komoditas yang masih membutuhkan impor dalam jumlah terbatas. Ketiga komoditas tersebut adalah kedelai, bawang putih, dan daging sapi.
Sementara itu, komoditas utama seperti beras, jagung, cabai, bawang merah, daging ayam, telur ayam, dan gula sudah mampu dipenuhi sepenuhnya dari dalam negeri.
Kondisi ini dinilai mampu menjaga ketahanan pangan nasional, terutama di tengah ancaman krisis global dan perubahan iklim seperti El Nino.
Produksi beras nasional menjadi salah satu indikator utama kekuatan pangan Indonesia. Pada tahun sebelumnya, produksi beras mencapai sekitar 34,7 juta ton.
Selain itu, stok awal tahun 2026 tercatat cukup besar, yakni sekitar 12 juta ton, sehingga memberikan cadangan yang kuat untuk kebutuhan nasional.
Bapanas juga memproyeksikan stok beras akan meningkat hingga mencapai sekitar 16 juta ton pada akhir 2026, memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan.
Pemerintah pun terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor agar dapat mencapai swasembada penuh.
Dengan kondisi ini, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk menghadapi tantangan global sekaligus menjaga stabilitas pangan dalam jangka panjang.(*)

