Jakarta, Semangatnews.com – Kawasan Gaza kembali dilanda ekskalasi kekerasan ketika pihak militer Israel menuduh pihak Hamas melakukan serangan terhadap tentaranya di wilayah selatan, sehingga memicu gelombang serangan udara balasan. Militer Israel menyatakan dua personel mereka tewas akibat rudal anti-tank atau senjata berat lainnya di daerah Rafah—klaim yang dibantah oleh Hamas, yang menyebut pihaknya tidak terlibat langsung.
Dalam kondisi tersebut, Donald Trump yang menjadi mediator utama kesepakatan gencatan senjata baru beberapa hari lalu, menyatakan secara resmi bahwa gencatan senjata masih berlaku. Namun ia menegaskan pihak yang melanggar harus siap menghadapi konsekuensi keras. Ia menyebut kemungkinan bahwa insiden itu dilakukan oleh “pihak pemberontak dalam” Hamas—bukan kepemimpinan utama—dan menegaskan bahwa AS akan menindak jika kesepakatan benar-benar runtuh.
Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran gencatan senjata yang sebelumnya dianggap memberikan harapan bagi perdamaian. Data dari pihak setempat menyebut bahwa Israel telah melakukan puluhan kali pelanggaran sejak awal gencatan—termasuk penembakan, penangkapan warga sipil, dan serangan udara yang menewaskan banyak anak-anak dan perempuan. Hamas sendiri menyatakan tetap berkomitmen pada gencatan, meski menyesalkan kondisi akses kemanusiaan yang masih terbatas.
Trump menyampaikan keprihatinan bahwa jika gencatan terus dilanggar, maka “semua embel‐embel diplomasi” bisa pecah dan konflik akan kembali seperti semula. Ia menolak untuk menyebut secara spesifik apakah Israel mendapat lampu hijau dari AS untuk melakukan serangan balasan, ketika seorang wartawan menanyakan apakah serangan Israel ke Gaza bisa dibenarkan. Jawabannya adalah “Saya harus memeriksanya dulu.”
Sementara itu, militer Israel menyebut bahwa meskipun ada serangan balasan, mereka tetap berkomitmen untuk mempertahankan kesepakatan gencatan senjata dan tengah mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza setelah sempat tertunda. Namun demikian, warga Gaza menunjukkan skeptisisme: banyak yang masih hidup dalam ketakutan “pelepasan tembakan tiba-tiba” atau bom udara yang akan datang.
Pakar politik dan konflik menilai bahwa momentum gencatan ini sangat rapuh. Walaupun secara resmi masih berlaku, kenyataannya dua pihak—Israel dan Hamas—sedang berjalan di atas jurang: satu salah langkah kecil bisa menjatuhkan kembali perang terbuka. Trump dan delegasi AS tengah berkembangkan rencana untuk skema pengamanan baru dan pengiriman pasukan pengamat internasional, namun itu masih dalam tahap pembicaraan.
Di garis depan, warga sipil yang sudah lama menderita akibat dua tahun perang kembali mengalami trauma. Kota-kota di Gaza yang rusak parah melihat keluarga yang kehilangan rumah, masih bergulat dengan kekurangan air, listrik, dan akses medis. Ketika sirene serangan udara kembali meraung, harapan akan perdamaian kembali dipertaruhkan.
Meski Trump optimis bahwa kesepakatan bisa bertahan, ia juga mengakui bahwa “akan ada naik turun”. Wakil Presiden AS menyampaikan bahwa skema disarmament dan penguatan keamanan lokal di Gaza akan menjadi prasyarat bagi stabilitas jangka panjang. Namun pelaksanaannya akan memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan.
Dalam situasi ini, banyak negara Arab dan mitra internasional yang menuntut agar AS dan Israel segera membuka akses kemanusiaan penuh ke Gaza dan menghentikan pembentukan garis‐kuning (“yellow line”) yang memisahkan wilayah antara Gaza dan kawasan yang dikuasai Israel—sebuah fitur baru yang dianggap membingungkan warga dan memicu kecelakaan fatal.
Walaupun begitu, untuk saat ini Trump tetap menyatakan bahwa ia akan “bertindak tegas” jika gencatan runtuh. Pernyataan ini memberikan sinyal bahwa AS tidak hanya pengamat, tetapi bisa menjadi aktor utama dalam fase berikutnya proses perdamaian. Apakah gencatan bisa bertahan? Itu sangat tergantung pada kepatuhan baik Israel maupun Hamas — dan tindakan cepat jika salah satu pihak melanggar.(*)
