Ketidakjelasan Suksesi Keraton Solo: Keluarga Besar Masih Bahas Penerus Pakubuwono XIII

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Pasca wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, suasana di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih dalam suasana doa dan berkabung, di mana pembahasan soal siapa yang akan meneruskan takhta hingga kini belum menemui titik terang.

Menurut Maha Menteri Keraton, KGPA Tedjowulan, pihak keluarga akan mengundang seluruh putra-putri almarhum serta kerabat penting untuk duduk bersama dalam waktu dekat, namun ia menegaskan bahwa pembicaraan resmi mengenai suksesi akan dilaksanakan setelah masa berkabung selesai dan dalam waktu yang tepat.

“Kita belum bicara soal suksesi untuk saat ini. Masa berkabung masih berjalan dan kita harus menghormati proses yang ada,” ujar Tedjowulan di Solo.

Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah status putra tertua almarhum, KGPH Mangkubumi, yang lahir dari pernikahan almarhum Pakubuwono XIII dengan istri keduanya, KRAy Winari Sri Haryani. Nama Mangkubumi disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus, namun belum ada konfirmasi resmi dari internal keraton.

Di sisi lain, terdapat juga nama putra mahkota, KGPAA Hamangkunegoro (dikenal juga sebagai Gusti Purbaya), yang sebelumnya telah dipersiapkan untuk memimpin keraton. Nama ini pun turut mengemuka dalam wacana suksesi, menambah kompleksitas proses pemilihan.

Keraton sendiri merujuk pada angka SK Mendagri Nomor 430-2933 Tahun 2017 sebagai salah satu dasar pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta—yang menyebut bahwa proses internal harus tetap berlandaskan adat, musyawarah keluarga dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta pusat. Hal ini ditegaskan lagi oleh Tedjowulan.

Pengamatan pihak kebudayaan menyebut bahwa proses suksesi di keraton-keraton Jawa bukan hanya sekadar urusan administrasi atau garis keturunan saja, tetapi juga mencakup syarat moral, kemampuan adat, dan penerimaan keluarga besar keraton.

Sejumlah pihak mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan internal agar tidak timbul gesekan antar kerabat—terutama di tengah sorotan publik yang cukup tinggi terhadap keberlanjutan tradisi dan warisan budaya keraton.

Meski belum ada pengumuman resmi, keluarga besar keraton telah menyatakan bahwa seluruh putra-putri akan dikumpulkan untuk mendiskusikan tahapan seleksi, mekanisme pengangkatan, serta upacara adat yang akan menyertai proses tersebut.

Langkah ini dinilai penting agar setelah pengangkatan penerus, transisi kepemimpinan keraton dapat berlangsung dengan lancar dan tanpa kegaduhan yang membebani citra budaya Surakarta.

Dengan demikian, publik yang menantikan siapa yang akan resmi menjadi Susuhunan selanjutnya hanya bisa menunggu pengumuman resmi dari keraton—sementara keluarga besar berupaya menata proses internal secara tertib dan penuh penghormatan terhadap tradisi.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.