Ketua Umum PP Muhammadiyah: Tokoh Agama Hindari Ujaran Perkeruh Suasana

by -

Ketua Umum PP Muhammadiyah: Tokoh Agama Hindari Ujaran Perkeruh Suasana

SEMANGATNEES.COM. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, meminta para tokoh agama untuk menghindari ujaran atau pernyataan menyangkut beda waktu penetapan Idulfitri 1447 H yang bisa memperkeruh suasana.

“Para tokoh agama hindarilah ujaran-ujaran, pernyataan-pernyataan yang justru menimbulkan suasana yang tidak baik di masyarakat,” kata Haedar usai melaksanakan salat Idulfitri 1447 H di UMY, Bantul, DIY, Jumat (20/3).

Pernyataan tersebut adalah menanggapi ujaran Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, bahwa pengumuman awal Ramadhan maupun Hari Raya Idulfitri tidak boleh dilakukan di luar keputusan pemerintah. Kewenangan tersebut, menurutnya, berada di tangan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai representasi ulil amri.

Cholil merujuk pada keputusan MUI tahun 2004 yang menegaskan bahwa otoritas penetapan awal bulan Hijriah merupakan domain pemerintah. Dalam pandangan tersebut, keputusan negara bersifat mengikat dan bertujuan mengakhiri perbedaan yang berpotensi memicu kebingungan di tengah masyarakat.

“Keputusan pemerintah adalah hukum yang mengikat dan dapat menghilang kan perbedaan,” tegas Cholil.

Namun Haedar meyakini bangsa Indonesia mampu bersikap paling dewasa di tengah situasi atau urusan perbedaan macam ini.

Oleh karena itu pula Haedar berharap kepada siapa saja agar tak perlu mencari-cari argumen apa pun sebagai pembenaran diri dan memvonis pihak lain terkait beda waktu lebaran ini.

“Tidak perlu kita centang, mempertajam perbedaan. Pertama, karena kita sudah biasa berbeda. Yang kedua, tidak perlu mencari argumen apapun untuk membenarkan diri lalu memvonis pihak lain yang berbeda, baik yang orientasinya kewargaan maupun orientasinya kepemerintahan,” harapnya.

Lebih lanjut, Haedar berharap umat muslim untuk lebih memprioritaskan kekhusyukan pelaksanaan ibadah demi meningkatkan kualitas diri.

“Jalani Idulfitri, baik yang tanggal 20 [Maret] maupun yang tanggal 21, bahkan ada yang kemarin, untuk lebih khusyuk dalam beribadah dan menimbulkan kesalehan jiwa dan pikiran, sehingga kita tidak digoda oleh hasrat-hasrat perbedaan yang menajamkan keretakan dan luruhnya ukhuwah,” ucap Haedar. (Dikutip dari CNN Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.