Keunikan Kawasan Wisata Pantai Padang Menjadi Kuat Disertai Monumen dan Relief Bersejarah

oleh -

Keunikan Kawasan Wisata Pantai Padang Menjadi Kuat Disertai Monumen dan Relief Bersejarah

Semangatnews.com, Padang – Sektor Pariwisata di kota Padang sebagai ibu kota provinsi Sumatera Barat dapat berkembang dengan pesat jika dikelola dan ditangani secara profesional dan sepenuh hati karena kota Padang selain memiliki pemandangan alamnya yang indah, lautnya yang terbentang luas, seharusnya disertai isi pariwisata berupa monumen dan relief sebagai artefak bernilai sejarah dengan tidak mengabaikan aspek lingkungan dan masyarakatnya.

Hal yang tidak kalah penting adalah penataan obyek-obyek wisata berbasis budaya itu juga harus disertai dengan komitmen Pemko Padang, agar sektor wisata tidak hanya mengandalkan alam semata, tetapi juga isi dan obyek-obyek wisata yang menarik perhatian publik.
Karena itu, sudah saatnya kota Padang sebagai ibu kota provinsi Sumatera Barat, terus berbenah diri secara simultan.

Sebagaimana beberapa waktu lalu di Semangatnews.com ini pernah disebutkan, bahwa futurisme Jhon Naisbit dalam suatu kesempatan pernah menyebutkan; dunia pariwisata kini mampu menjadi industri yang menggiurkan bahkan memakmurkan dunia, karena memberi konstribusi besar yang tak ada duanya.

Bahkan sektor pariwisata dunia mampu menampung lapangan pekerjaan besar. Artinya satu dari sembilan orang bekerja di sektor pariwisata atau sekitar 10,6 persen dari 204 juta orang pekerja. Melalui data dunia terungkap, 10,2 persen GNP (Gross National Product) bersumber dari sektor pariwisata yang menyedot pajak mendekati 700 milyar dollar AS pertahunnya, ujar pengamat seni dan kurator, Muharyadi dan pematung nasional, Yusman yang dihubungi ditempat terpisah via telepon, Jumat sore (1//11)

Menurut Muharyadi, pembangunan melalui pendekatan keindahan alam serta isinya itu, menggambarkan betapa strategisnya sektor pariwisata di muka bumi ini yang perlu dimaknai dan disiasati, termasuk kota Padang sebagai wajah dan pintu gerbangnya Sumatera Barat.

“karena tidak banyak daerah lain di Indonesia memiliki keindahan alam selengkap dan seindah di daerah kita Sumatera Barat,” ujar Muharyadi.

Keindahan alam saja belumlah dianggap segalanya sebagai andalan sektor pariwisata tanpa dilihat secara menyeluruh dan komprehensif dalam tubuh pariwisata itu sendiri.

Keindahan alam Sumatera Barat tidak kalah populer ketimbang Bali, adalah suatu keniscayaan.

“Tetapi kondisi realitas di lapangan, ternyata Bali mampu menjadi ikon pariwisata nasional yang popularitasnya melebihi bangsa ini di mata dunia,” ujar Muharyadi.

Artinya keindahan alam hanya merupakan suatu hal sebagai kekuatan pariwisata daerah yang bisa pupus dalam ingatan pengunjung manakala ia juga menemukan keindahan alam baru melebihi dari apa yang pernah dilihat sebelumnya.

“Dikaitkan kecendrungan pengunjung wisata saat ini, terdapat indikasi bahwa pengunjung wisata tidak lagi fokus ingin santai dan menikmati sun-sea and sand semata, karena pola konsumsi pengunjung secara perlahan mulai bergeser ke jenis wisata yang lebih tinggi, salah satunya wisata dengan kreasi budaya (culture) dan obyek peninggalan-peninggalan bersejarah (heritage ) yang makin populer dan memberi warna wisatawan,” ujar Muharyadi lagi.

Sementara pematung nasional Asal Sumbar, Yusman, menyebutkan bahwa salah satu obyek wisata yang menarik pariwisata Kota Padang adalah menjadikan kawasan gunung Padang sebagai ikon wisatanya yang akan banyak dikunjungi para wisatawan lokal dan mancanegara.

“Menurut Yusman, sedikitnya ada 3 (tiga) point penting yang menjadi daya tarik wisata gunung padang, yakni (1) Legenda Malin Kundang, (2) Kisah roman Siti Nurbaya dan (3) Lingkup sejarah kota tua yang didalamnya ada sejarah heroik hari jadi Kota Padang yang dapat divisualkan melalui kaya seni berupa relief,” ujar Yusman yang menerima rekor MURI dalam pembuatan relief terpanjang di tanah air yang berlokasi di Pacitan, Jawa Timur.

Dijelaskan, dibeberapa tempat lokasi wisata dunia itu selalu barengi oleh monumen-monumen atau benda peragaan yang mengambarkan keberadaan lokasi wisata itu.

“Seandainya ada monumen yang menceritakan legenda Malin Kundang lebih syarat makna pesan moral seorang anak tidak boleh durhaka dan bahwa kasih sayang ibu itu sepanjang hayat dikandung badan. Kemudian juga ada monumen sejarah heroik perlawan masyarakat terhadap penjajahan. Yang sampai saat ini tidak terpublikasi dengan sempurna dan utuh selain juga belum ada kreatifitas pengelolaannya,” ungkapnya.

Menurut Yusman yang kini bermukim dan berkarya di Yogyakarta tersebut, Sumatera Barat itu kaya dengan nilai-nilai budaya, nilai-njlai sejarah perjuangan bangsa serta nilai-nilai kelestarian keindahan alam.

“Tapi sayangnya, kita belum memberikan apresiasi tentang kekayaan itu sebagai kekuatan untuk menggerakkan majunya pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), seperti daerah lain yang maju dunia kepariwisataannya,” ujar Yusman.

Keanekaragaman Wisata Budaya berisikan aktifitas rakyat, kebiasaan adat istiadat, cara hidup dan cara pandang, budaya dan kesenian di tengah-tengah masyarakatnya, paling tidak dapat dijadikan cikal bakal menghidupkan wisata budaya daerah ini.

“Semua itu dapat digambarkan melalui karya seni dalam bentuk karya monumental maupun relief. Bagi pengunjung wisata berbagai rekaman peristitiwa yang ada dalam relief dapat dijadikan rujukan terhadap kekayaan wisata budaya sekaligus merupakan pengalaman tersendiri yang memiliki keunikan dari aspek sejarah,” ujar Yusman lagi.

Menurut Yusman jika di Sumatera Barat selain kota Padang, jika saja setiap pemkab/pemko, ingin membangun lokasi berdasarkan nilai-nilai itu maka arah dan sasaran dari kemajuan pariwisata itu tidak akan bertentangan dengan filosofi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah.

Saat ditanya apakah ia mau ikut serta memajukan Pariwisata di Sumbar, Yusman mengatakan, saya telah banyak bangun membantu kemajuan daerah lain, rasanya saya ingin pula mengabdikan karya untuk kemajuan kampung halaman saya, sayang saja belum ada jawaban kepastian dari pimpinan daerah,” ujarnya mengakhiri. (FR).