Jakarta, Semangatnews.com – Kontroversi film The Assassin(s) di Korea Selatan semakin meluas. Tidak hanya memperdebatkan isi film, polemik tersebut kini ikut memengaruhi agenda promosi, para pemeran, hingga keikutsertaan film dalam sejumlah kegiatan perfilman internasional.
Film yang disutradarai Hur Jin Ho itu mengangkat kembali peristiwa penembakan Yuk Young Soo pada 15 Agustus 1974. Yuk merupakan istri Presiden Park Chung Hee yang meninggal dunia setelah tertembak dalam sebuah upacara peringatan Hari Pembebasan Korea Selatan.
Kisah tersebut menjadi kontroversial karena The Assassin(s) tidak hanya mengikuti narasi resmi mengenai peristiwa tersebut. Film memasukkan unsur investigasi dan mempertanyakan kemungkinan adanya pihak lain yang berada di balik insiden yang selama ini dikenal dalam sejarah Korea Selatan.
Dalam film, karakter yang diperankan Yoo Hae Jin, Park Hae Il, dan Lee Min Ho berusaha menelusuri sejumlah kejanggalan. Penyelidikan dalam cerita kemudian mengarah pada dugaan mengenai kemungkinan keterlibatan badan intelijen Korea Selatan ketika itu.
Hal tersebut menjadi titik utama kritik terhadap film. Sejumlah kelompok konservatif menilai penggambaran tersebut dapat memberikan pemahaman yang berbeda dari catatan sejarah mengenai penembakan Yuk Young Soo dan dianggap berpotensi menimbulkan distorsi sejarah.
Polemik kemudian berkembang di luar ruang bioskop. Sejumlah pemeran dan pihak yang terlibat dalam promosi film mendapat tekanan dari publik, termasuk aksi protes yang menyasar aktor Yoo Hae Jin. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kontroversi film telah berkembang menjadi perdebatan sosial dan politik.
Beberapa kegiatan promosi juga ikut terdampak. Fitur komentar pada sejumlah materi promosi yang menampilkan pemeran film dilaporkan dinonaktifkan setelah kontroversi meningkat. Kondisi serupa juga terlihat pada sejumlah kegiatan yang seharusnya mempertemukan pemain dengan penonton.
Busan International Film Festival menjadi salah satu agenda yang terkena dampak langsung. Pemeran utama Yoo Hae Jin dan Lee Min Ho sebelumnya dijadwalkan hadir dalam acara pembukaan, sedangkan Hur Jin Ho, Park Hae Il dan pemeran lainnya dijadwalkan mengikuti agenda panggung terbuka. Seluruh agenda tersebut kemudian dibatalkan atau tidak dihadiri akibat situasi yang berkembang.
Di tengah tekanan tersebut, kelompok dari industri perfilman Korea Selatan justru menyerukan agar kritik terhadap film tidak berkembang menjadi serangan berlebihan terhadap pembuatnya. Mereka menilai perdebatan mengenai karya film seharusnya tetap berada dalam ruang kritik terhadap karya dan tidak berubah menjadi tekanan personal terhadap para pekerja film.
Dari sisi penonton, The Assassin(s) tetap menunjukkan performa yang kuat. Film tersebut telah melewati angka dua juta penonton hanya 11 hari setelah dirilis dan menjadi film Korea dengan jumlah penonton yang tinggi di tengah kontroversi yang sedang berlangsung.
Pihak produksi sendiri menyatakan bahwa film tersebut tidak dibuat untuk menetapkan kesimpulan sejarah baru ataupun menyangkal fakta yang telah ada. Namun, karena cerita menyentuh peristiwa politik yang sensitif, perdebatan mengenai sejauh mana kebebasan kreatif dapat digunakan dalam menggambarkan sejarah diperkirakan masih akan terus berlanjut.(*)

