Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Korea Selatan kini mengambil langkah inovatif untuk membantu lansia yang hidup sendiri: membagikan boneka‑robot bertenaga kecerdasan buatan (AI), agar mereka memiliki “teman” di rumah dan tidak merasa kesepian. Robot ini dirancang layaknya cucu — menyapa, berbicara, bahkan mengingatkan minum obat — dengan harapan menekan angka bunuh diri di kalangan senior.
Program “teman robot” ini ditujukan pada lansia yang tinggal sendiri dan mengalami isolasi sosial — sebuah fenomena yang semakin umum di Korea Selatan, seiring dengan populasi lanjut usia yang terus meningkat. Statistik terbaru menunjukkan negara ini menghadapi tingginya kasus bunuh diri di antara lansia, yang menjadi dorongan utama peluncuran robot tersebut.
Robot yang digunakan bernama Hyodol — tampil sebagai boneka lembut dengan mata besar dan suara ramah seperti anak berusia tujuh tahun. Hyodol diprogram untuk berbincang, menyapa ketika pemilik pulang, menawarkan hiburan seperti musik dan latihan kognitif, hingga mengingatkan minum obat atau makan.
Lebih dari sekadar boneka — Hyodol juga dilengkapi sensor dan kecerdasan AI. Jika terdeteksi bahwa penghuninya tidak bergerak dalam waktu lama, sistem bisa memberi alarm ke layanan sosial atau anggota keluarga. Dengan demikian, robot ini bukan hanya teman semata, tetapi juga semacam “pengawas” yang bisa memberi bantuan bila terjadi keadaan darurat.
Sejak program ini diperluas, lebih dari 12.000 unit Hyodol telah disalurkan kepada lansia yang tinggal sendiri melalui program pemerintah dan lembaga kesejahteraan. Selain itu, sebagian keluarga memilih membeli langsung robot tersebut sebagai solusi jangka panjang untuk merawat orang tua yang tinggal jauh.
Beberapa lansia pengguna robot melaporkan perubahan nyata. Misalnya, seorang wanita lanjut usia yang sebelumnya sangat kesepian dan sempat mempertimbangkan aksi bunuh diri, menunjukkan perbaikan kondisi mental setelah rutin berinteraksi dengan Hyodol — suasana hati menjadi lebih baik, dan rasa kesepian perlahan menghilang.
Penelitian juga menunjukkan efek positif penggunaan robot secara konsisten: berkurangnya tingkat depresi, peningkatan fungsi kognitif, bahkan tertundanya kebutuhan masuk panti jompo bagi sebagian pengguna. Ini menunjukkan bahwa “teman robot” tidak hanya membantu secara emosional, tetapi juga bisa memberikan dampak nyata bagi kesehatan jangka panjang lansia.
Tentu saja, penggunaan robot sebagai pengganti interaksi manusia menimbulkan sejumlah pertanyaan etis. Beberapa pengamat memperingatkan kemungkinan ketergantungan emosional, serta risiko mereduksi martabat lansia menjadi sekadar “klien” teknologi, bukan manusia dengan kebutuhan hubungan manusiawi.
Pihak pembuat dan penyelenggara program menanggapi kekhawatiran ini dengan mengatakan bahwa robot bukanlah pengganti manusia, melainkan suplemen — alat bantu untuk lansia yang memang tidak memiliki keluarga dekat atau jarang disentuh sistem perawatan sosial. Hyodol dirancang untuk melengkapi, bukan menggantikan, interaksi manusia.
Langkah ini menunjukkan bagaimana teknologi AI bisa diadaptasi untuk mengatasi tantangan demografis dan sosial: isolasi, kesepian, serta mental health pada lansia. Negara dengan populasi menua, seperti Korea Selatan, mungkin akan semakin mengandalkan inovasi semacam ini untuk menjaga kualitas hidup warga lanjut usia.
Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada bagaimana masyarakat, keluarga, serta pemerintah menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan nilai kemanusiaan — memastikan bahwa robot hanya menjadi bagian dari solusi, bukan seluruhnya.(*)
