Jakarta, Semangatnews.com – Banjir kembali menjadi momok bagi warga Kota Tangerang Selatan setelah 17 titik wilayah permukiman dilaporkan terendam air pasca hujan lebat. Kondisi ini membuat banyak keluarga merasa terjebak antara harapan pulang dan ketakutan akan datangnya banjir susulan.
Rendamannya beragam; sebagian genangan hanya mencapai lutut, tapi ada juga yang sudah menyentuh pinggang orang dewasa. Warga di beberapa perumahan mengaku trauma karena banjir sebelumnya pernah merusak perabotan rumah dan menenggelamkan aset berharga mereka.
BPBD Tangsel segera merespons dengan mengerahkan tim pemantau ke titik-titik rawan dan menyarankan warga untuk berjaga-jaga. Komandan Satgas BPBD, Dian Wiriyawan, mengungkap bahwa upaya evakuasi telah disiapkan, terutama bagi keluarga yang rumahnya berada di zona rendah dan rentan terendam.
Sementara itu, masyarakat menilai bahwa solusi jangka pendek belum cukup. Warga menginginkan perbaikan serius pada sistem drainase kota agar genangan tidak terus-menerus terjadi setiap kali hujan deras mengguyur wilayah Tangsel.
Sejumlah tokoh masyarakat pun menyatakan bahwa salah satu akar masalah adalah pengelolaan aliran air sungai yang belum tertata dengan baik. Saluran kali yang melintasi area pemukiman disebut-sebut mengalami penyempitan karena sedimentasi dan sampah, sehingga ketika hujan, air mudah meluap.
Ada juga keluhan tentang keterbatasan pompa air. Para warga menyebut bahwa jumlah dan kapasitas pompa yang tersedia tak sebanding dengan volume air yang harus ditangani, sehingga saat terjadi genangan besar, pompa tidak bisa mengurangi ketinggian air secara maksimal.
Di tengah tekanan publik, Pemkot Tangsel mulai menyinggung rencana penanganan berkelanjutan. Salah satu ide yang diusulkan adalah pembuatan long storage dan tangki penahan air untuk menyimpan air hujan sementara sebelum dialirkan ke sungai, mengurangi beban drainase kota.
Warga pun diminta berkontribusi dalam menjaga kebersihan saluran air. Ada seruan agar mereka tidak membuang sampah plastik dan sampah rumah tangga ke sungai atau selokan, karena hal itu memperparah risiko genangan saat hujan deras.
Beberapa komunitas lokal sudah tergerak untuk melakukan gotong royong membersihkan saluran anak sungai. Kegiatan ini diharapkan bisa membantu memperlancar aliran air dan menjadi bagian dari mitigasi banjir yang melibatkan masyarakat.
Namun, kritik dari pakar tata kota tak bisa diabaikan. Mereka menyoroti minimnya ruang terbuka hijau di Tangsel yang membuat resapan air berkurang drastis. Padahal, keberadaan ruang resapan sangat penting sebagai buffer terhadap limpasan hujan ekstrem.
Guna menjawab sorotan ini, pemerintah kota berjanji akan mengevaluasi rencana tata ruang dan potensi peningkatan ruang terbuka hijau di masa depan. Rencana jangka panjang ini diharapkan menjadi bagian dari solusi struktural untuk mengurangi risiko banjir yang terus menghantui Tangsel.
Dengan perhatian publik yang meningkat, penanganan banjir di Tangsel diharapkan tidak lagi sekadar tanggap darurat, tetapi masuk ke ranah perencanaan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan kota menghadapi cuaca ekstrem.(*)
