Jakarta, Semangatnews.com – Film “Abadi Nan Jaya” yang sebelumnya dinanti banyak pihak ternyata menghadapi kritik pedas dari dua arah: baik dari kalangan kritikus maupun penonton umum. Berdasarkan agregator ulasan, film ini memperoleh skor 28 persen dari lebih dari 100 ulasan penonton—menjadi sinyal bahwa sambutan jauh dari antusias.
Kritik utama tampaknya mengarah pada karakter utama yang menurut sebagian besar penonton terasa lemah dan tidak konsisten. Meskipun premis film cukup unik—sebuah desa yang mendadak diserbu wabah zombi setelah seorang pebisnis jamu menciptakan ramuan awet muda dari kantung—eksekusi karakternya dirasa gagal mengangkat potensi cerita.
Kritikus film memuji ide dasar “Abadi Nan Jaya” sebagai segar dan punya potensi besar, terutama dalam menggabungkan unsur horor, satir sosial, dan cerita lokal. Namun, mereka juga menyebut bahwa skenario dan karakterisasi justru menjadi titik lemah yang membuat film susah diterima secara luas.
Beberapa penonton mengungkapkan bahwa karakter utama serta supporting cast kurang memiliki perkembangan emosional yang kuat—padahal hal itulah yang dibutuhkan untuk menyambungkan penonton dengan narasi. Ketidakmampuan membuat simpati terhadap karakter membuat banyak momen terasa datar.
Sementara itu, dari sisi produksi, film ini memang menampilkan set desa yang menarik, kostum jamu awet muda yang kreatif, dan efek visual yang cukup layak. Meski demikian, sebagian besar audiens merasa elemen visual saja tidak cukup untuk menutupi narasi yang terasa “tergelincir” dari premis awalnya.
Dalam sesi tanya jawab pasca tayang, sutradara dan produser film mengakui bahwa film menghadapi tantangan besar untuk menyatukan banyak elemen cerita—horor, komedi, kritik sosial—dalam durasi yang terbatas. Mereka berjanji akan mengevaluasi respons publik sebagai bahan untuk karya berikutnya.
Para pengamat industri film Indonesia mengambil catatan dari kejadian ini sebagai “peringatan” bahwa ide bagus saja tidak cukup. Eksekusi dalam karakterisasi dan narasi sangat menentukan apakah sebuah film akan berhasil diterima baik atau gagal dalam membangun koneksi dengan penontonnya.
Meski performa penonton dalam ulasan rendah, film “Abadi Nan Jaya” tetap memiliki nilai penting sebagai upaya sinema nasional bereksperimen dengan genre dan cerita lokal yang kurang dieksplor. Ini memberi ruang bagi pembuat film untuk belajar dan tumbuh.
Tidak sedikit yang berharap bahwa dengan masukan dari kritik dan publik, pembaruan dalam skenario atau karakterisasi bisa dilakukan ketika film ini dirilis secara streaming atau mendapatkan distribusi internasional. Harapan bahwa cerita lokal bisa bersaing global tetap hidup.
Sekalipun demikian, dampak rilis film ini telah terasa—namanya menjadi bahan diskusi di komunitas film, media sosial, dan forum sineas. Diskusi lebih sering tentang “apa yang kurang” daripada “apa yang berhasil”, namun bagi para pembuat film itu sendiri, ini berarti adanya perhatian (meski kritis) terhadap karya mereka.
Akhirnya, film “Abadi Nan Jaya” mengingatkan bahwa di industri kreatif, penerimaan publik dan kritik keduanya sangat penting. Dengan respons yang cukup keras dari keduanya, pembuat film kini dihadapkan pada tantangan berikutnya: bagaimana memperkuat karakter, menyempurnakan narasi, dan membuat ide besar bisa “dihidupkan” di layar dengan cara yang menyentuh.(*)
