SEMANGATNEWA.COM – Pembangunan bidang seni rupa dan industri kreatif di Sumatera Barat merupakan kelompok seni budaya yang tidak terimbas dengan covid.19. Karena di tengah-tengah wabah pandemi yang telah mendunia itu sejak lebih setahun silam para perupa, kriyawan maupun calon-calon seniman baik kalangan mahasiswa maupun para peserta didik SMK kelompok seni budaya di Sumatera Barat tetap saja melahirkan karya-karya terbaik hasil pergulatan kreativitas masing-masing bernilai estetika tinggi tanpa mengabaikan nilai-bilai budaya lokal.
Hal itu disampaikan Dekan FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ISI (Institut Seni Indonesia) Padangpanjang, Sumatera Barat, Yandri, S.Sn, M.Sn dihadapan para seniman/kriayawan Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Utara bahkan propinsi Aceh, dan para undangan terdiri jajaran Pemko Padangpanjang, Dinas Kebudayaan Sumbar dan lainnya saat menghadiri pembukaan EXPO #5 Kriya Seni di Galeri, Taman Budaya, Jalan Diponegoro, 31 Padang, Kamis sore (17/06/21).
Menurut Yandri sejak lama persisnya pra kemerdekaan bahkan dalam beberapa dekade belakangan para seniman dan kriayawan seni asal Sumatera Barat baik di daerah sendiri maupun di luar Sumatera seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan lainnya telah mencatatkan tinta emas dalam peta seni rupa di tanah air ditandai banyaknya karya-karya masterpiece dan berkualitas hadir di tengah-tengah masyarakat pada eranya.
Karena itu karya-karya yang lahir kepermukaan oleh para seniman/kriyawan mapun calon-calon seniman/kriayawan, baik melalui iven pameran, Expo dan lain sebagainya harus dapat dilihat dari tiga pokok persoalan, baik dari karya dengan seperangkat nilai-nilai yang hasil pergulatan penciptanya, kedua bagaimana pula dengan lahirnya karya-karya tersebut dapat menopang kehidupan senimannya bagaimana pun seniman sebagai manusia biasa senantiasa membutuhkan alat dan bahan berkarya serta menopang kehidupannya, dan ketiga pemerintah baik provinsi, pemkab/pemko di Sumatera Barat juga dapat menjadikan karya-karya terbaik kelompok personal sebagai aset berharga di semua OPD yang ada di daerah ini.
Untuk kelompok karya kriya seni dan industri kreatif yang diproduksi massal seperti batik tulis, batik cap, ekoprint, kerajinan logam, busana, fashion, kerajinan kayu, kerajinan kulit, keramik dan cendra mata berbasis budaya dapat dijadikan komoditi eksport dan kebutuhan masyarakat daerah yang pada gilirannya berdampak pada pertumbuhan ekonomi melalui UMKM dan mungkin juga bapak angkat, ujar Yandri.

Hal ini pulalah yang belum bersinergi selama ini. Kampus seni seperti ISI Padangpanjang, Seni Rupa UNP Padang, para seniman/kriayawan, kurator seni rupa/kriya seni senantiasa memikirkan hal-hal terbaik untuk kekaryaan, sementara peran strategis kalangangan esksekutif dan legislatif serta OPD terkait juga sangat menentukan dalam mengangkat persoalan seni rupa dan kriya agar menjadi kekuatan ekonomi baru, ujar Yandri.
Sementara ketua panitia pelaksana EXPO # 5 Kriya Seni, Nofrial S.Sn,M.Sn dalam laporannya menyebutkan semula peserta berjumlah 50 an peserta dari Sumbar, Riau, Jambi, Sumatera Utara bahkan pendatang baru propinsi Aceh, tetapi sehari menjelang pembukaan tiba-tiba banyak peserta yang antusias mengikutsertakan karya-karyanya, baik karya person maupun produk-produk fungsional terapan sehingga panitia memajang bergantian seperti kriya kayu, keramik, kriya logam, kulit dan lainnya hingga pameran EXPO # 5 usai 19 Juni 2021 nanti.
Pengamat dan kurator seni rupa, Muharyadi ditengah-tengah kesibukan EXPO # 5 ini, saat diminta pendapatnya perihal kegiatan kriya seni menyebutkan, perihal karya-karya yang tampil baik karya person maupun produk-produk fungsional terapan sudah saatnya Pemprov/Pemkab/Pemko di daerah ini bersama perguruan tinggi seni, seniman/kriyawan, kurator duduk bersama memikirkan bagaimana seni rupa dan kriya seni serta karya terapan dapat menjadi kekuatan baru pembangunan di daerah ini.
Untuk karya person dapat dijadikan aset pemerintah yang suatu saat dapat dijual kembali dengan harga tinggi bahkan dapat pula menjadi wajah pajangan museum seni sebagai icon budaya di daerah ini yang syarat makna dan kaya nilai-nilai. Untuk karya kriya terapan dapat dijadikan sumber pemasukan keuangan daerah seperti batik tulis, batik cap, eko print, kerajinan logam, kulit, keramik, busana dan fashion yang kini tumbuh cepat dengan karya-karya terbaiknya dan dapat diproduksi massal, ujar Muharyadi memberi ilustrasi. (FR)
