Jakarta, Semangatnews.com – Rasa harap dan antusiasme menggantung di udara ketika para pedagang eks Barito bersiap menyambut soft launching Sentra Fauna dan Kuliner di Lenteng Agung. Namun, harapan itu buyar ketika pengumuman pembatalan datang di tengah malam, meninggalkan pedagang dalam kebingungan dan kerugian besar.
Para pedagang menceritakan bagaimana mereka bekerja keras menyiapkan gerobak, mengangkut stok dagangan, dan memasak menu kuliner sejak malam hari sebelumnya. Semua upaya itu ditujukan untuk menyambut hari pertama, tetapi bermalam dalam kecemasan ketika kabar pembatalan tiba-tiba muncul.
Beberapa pedagang mengaku baru dikabari melalui pesan pribadi, tanpa adanya briefing atau pertemuan resmi sebelumnya. Informasi yang tidak transparan dan tiba-tiba tersebut membuat para pedagang merasa dianaktirikan dan tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam proses peresmian.
Di sela kekecewaan, ada pedagang yang tetap membuka kios meski tanpa acara soft opening. Mereka berharap setidaknya bisa menjual barang dagangan meski tidak ada seremoni. Namun, keramaian yang diharapkan tidak datang, dan banyak kios tetap sepi.
Salah seorang pedagang menyebut bahwa sebagian besar makanan siap jual akhirnya dibuang karena tidak terserap oleh pembeli. Biaya bahan mentah dan tenaga kerja untuk menyiapkan makanan terasa berat ketika hasilnya nihil, karena rencana dagang hari itu gagal terealisasi.
Solusi pindah ke bazar alternatif yang ditawarkan oleh pengelola pun ditolak sebagian pedagang. Mereka menilai jarak yang jauh dan risiko dagangan tidak laku membuat opsi tersebut menjadi beban tambahan, bukan solusi yang meringankan.
Pedagang merasa sudah menjalani proses relokasi sesuai arahan dinas. Mereka sudah meninggalkan lokasi lama di Pasar Barito dan bersiap menata usaha di sentra baru, namun pembatalan mendadak mengoyak keyakinan bahwa relokasi akan membawa perubahan positif.
Beberapa pedagang meminta kompensasi sebagai bentuk tanggung jawab dari pihak penyelenggara, mengingat kerugian yang diderita tidak hanya materi, tetapi juga kepercayaan terhadap janji pemerintah. Mereka berharap agar pemerintah menyadari bahwa di balik kios-kios kecil itu ada kehidupan para pelaku UMKM yang menggantung harapan.
Pihak dinas sendiri sebelumnya menjanjikan pendampingan terhadap para pedagang yang masih ragu menempati lokasi baru. Namun, di mata pedagang, janji pendampingan belum diiringi dengan tindakan konkret untuk menjaga transparansi dan keadilan.
Tidak sedikit pedagang yang kini merasa frustrasi dengan proses relokasi yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan usaha mereka, tapi berakhir dengan malam penuh keraguan. Ketidakpastian kapan soft opening akan kembali dijadwalkan membuat masa depannya terasa suram.
Kisah para pedagang Sentra Fauna Lenteng Agung ini mencerminkan dilema besar dalam proyek relokasi pasar modern: antara harapan perubahan dan realita tak terduga yang bisa menghancurkan kepercayaan. Pemerintah pun dihadapkan pada tugas besar untuk memperbaiki komunikasi dan memastikan bahwa relokasi tidak hanya simbol, tetapi nyawa bagi para pedagang.(*)
