MARTWAN M PELUKIS DAN PEMOTRET “LESTARI ALAMKU LESTARI DESAKU” ITU KINI TELAH TIADA

by -
Salah satu lukisan Alm. Martwan M, Lestari alamku, Lestari kampungku

In Memoriam Martwan M (02 Maret 1971 – 14 Agustus 2021)

SEMANGATNEWS.COM – Sedih, pilu, kaget dan rasa tak percaya menyelimuti perasaan para perupa Sumatera Barat dan dosen seni ISI Padangpanjang mendengar khabar Martwan M (50 th) perupa yang juga fotografer terkenal dengan julukan foto-foto “Lestari Alamku Lestari Desaku” itu tiba-tiba dikejutkan dengan khabar ia telah meninggal dunia tergeletak sendirian tanpa didampingi seorang pun di rumah kontrakannya Jalan Syech Ibrahim Musa, Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang baru diketahui sabtu malam (14/08/2021) sekitar pukul 21.00 Wib oleh tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kota Padang Panjang.

Alm. Martwan M

Sabtu siang itu sejumlah rekan-rekan kerjanya di ISI Padangpanjang bahkan teman-teman dekatnya, kehilangan kontak dengan dengan almarhum. Dihubungi via WhatsApp maupun di telepon tak ada jawaban apa-apa, ujar rekan kerjanya yang juga dosen di ISI Padangpanjang, Miswar (50 th) kepada semangatnews.com via WhatsApp Sabtu malam (14/08/21).

Beberapa hari sebelumnya Martwan saat berada di kampus tempat ia mengajar, telihat murung dan tak banyak bicara. Almarhum dalam riwayat sakitnya sejak beberapa tahun silam menderita sakit gula kering dan sering batuk-batuk. Tetapi ia tetap mengajar bahkan melakukan touring di sela-sela kesibukannya di kampus untuk memotret berbagai pemandangan alam dengan muatan lokal yang diberinya label “Lestari alamku lestari desaku” diberbagai lokasi di Sumatera Barat.

Foto-foto tersebut bukan hanya menarik perhatian publik, tetapi juga sangat artistik dengan nilai estetik tinggi, Bahkan sejumlah dosen mata kuliah fotografi di ISI Padangpanjang mengakui kalau Martwan memiliki skill luar biasa dalam mengambil momen atau obyek-obyek foto, ujar Miswar menceritakan.

Yunior Martwan, Widi Yanti (40 th), dosen seni kriya ISI dan pemilik Canting Buana Padangpanjang turut membenarkan kondisi seniornya itu. Terakhir bertemu di kampus ISI Padangpanjang, Senin 9 Agustus 2021 lalu. Saat itu almarhum ada keperluan administrasi tugas di kampusnya. Melihat kondisi Martwan yang sudah kurus, Widi Yanti menawarkan untuk turut membantu tetapi ditolak almarhum, ujar Widi Yanti menceritakan.

Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Padang, Yandri, S.Sn, M.Sn yang juga teman akrab almarhum baik semasa di SMSR Negeri Padang sesama satu angkatan tahun 1991 dan ISI Yogyakarta yang dihubungi perihal kondisi via WhatsApp, sedang tak berada di Sumbar karena sedang bertugas di Bandung dan tak bisa memberikan jawaban perihal kepergian Martwan.

Mantan Dekan FSRD ISI Padangpanjang, Drs. Erizal, MM saat dikonfirmasi perihal kondisi Martwan sejak lama, membenarkan semasa ia menjabat Dekan sejak 2010-2015 kondisi almarhum memang sudah sering sakit-sakitan. Tetapi Martwan tak pernah mengeluh bahkan berbagai kegiatan baik di kampus, di luar kampus, maupun pameran di dalam dan luar negeri bahkan pengabdian kepada masyarakat dibanyak daerah dan propinsi ia selalu ikut serta dan berperan aktif di dalamnya, ujar Erizal.

Alm. Martwan M bersama teman alumni

Hanya saja sejak lebih sebelas tahun silam, setahu saya Martwan tinggal sendiri di rumah kontrakannya Jalan Syech Ibrahim Musa, Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat. Karena yang bersangkutan telah lama berpisah dengan dengan isterinya yang memiliki satu anak perempuan kini beranjak remaja sementara orang tuanya pun bertempat tinggal di Baso, Agam yang otomatis berjauhan dari Martwan. jelas Erizal lagi.

Sabtu kemarin itu (14/08/21) semua teman-temannya benar-benar kehilangan kontak dengan Martwan untuk membicarakan agenda pameran seni rupa Komunitas Sakato dalam waktu dekat dan hal lain seputar aktivitas kampus. Penasaran karena tidak ada jawaban, Miswar dan beberapa orang temannya di kampus mencoba langsung mendatangi rumah kontrakan almarhum semi permanen di Sigando, Gunung Padangpanjang sabtu malam itu.

Dilihat dari luar rumah kondisinya  tampak sepi, malah motor yang sering dikendarai almarhum tampak dari luar. Merasa tak ada jawaban, Miswar dan kawan-kawan mendobrak pintu rumah kontrakan almarhum karena pemilik rumah sendiri bertempat tinggal jauh dari rumah kontrakan almarhum.

Astagafirullah, almarhum ditemukan sudah tak bernyawa lagi dan tergeletak di dekat jenjang rumah semi permanen di Sigando itu, diduga yang bersangkutan meninggal dunia beberapa jam sebelumnya. Kemudian memberitahu kepada petugas dan kepala desa serta lainnya. Innalillahi Wainna Illahi Rojiun, ujar Miswar dengan nada sedih.

Pelukis dan Fotografer yang Akrab dengan Pemandangan Alam dengan Muatan Lokal

Martwan dikalangan perupa Sumatera Barat merupakan sosok yang gigih dan ulet untuk selalu melahirkan karya-karya terbaik, terutama seni lukis, dan dunia grafis seni yang digelutinya. Bahkan bukan hanya itu selain melukis dan mengajar di kampusnya, dalam waktu sengganggnya Martwan sering berpergian untuk memotret beragam obyek pemandangan alam yang sangat indah dan menawan, baik obyek yang diambilnya saat matahari terbit, atau siang hari bahkan saat matahari tenggelam yang ia beri judul untuk semua foto-fotonya “Lestari Alamku Lestari Desaku” dan dimuat diinstagram bahkan di FB almarhum.

Obye-obyek pemandangan alam ini pun sering mengilhaminya untuk dijadikan model lukisan yang sering diikutsertakan dalam berbagai iven pameran di dalam dan luar negeri.

Salah satu jepretan foto Martwan M

Menurut Pengamat dan Kurator seni rupa, Muharyadi, yang dihubungi semangatnews.com menyebutkan merujuk catatan sejarah seni rupa moderen selama ini sebagaimana yang sering ditulis pakar dan pengamat seni rupa tanah air, nyaris tidak ada lukisan pemandangan yang mempunyai obyek-obyek tertentu. Lukisan pemandangan yang ada hanya hasil konstruksi atau susunan unsur-unsur yang baik dan diambil dari alam oleh senimannya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir Martwan sesuai lingkungan sosial dan tempat ia bermukim dan bertempat tinggal dengan seperangkat nilai-nilai didalamnya serta banyak obyek pemandangan selalu menggodanya untuk dilukis. Martwan memilih melukis pemandangan alam secara kasat mata dari sebelumnya menyenangi kecendrungan abstrak ekspresionistis dan kecendrungan lainnya, tiba-tiba berubah melukis pemandangan secara naturalistik dan realistik.

Karya-karyanya terlihat memposisikan unsur-unsur di alam dengan memilih lokasi di alam yang memang indah dan baik untuk dipindahkan ke kanvas. Lukisan pemandangan alam Martwan dalam beberapa tahun terakhir menawarkan yang tidak bersifat analitik tapi begitu kentara atas ungkapan yang segar dan indah aayas obyek-obyek yang digarapnya terutama obyek gunung, hamparan sawah yang terbentang luas atau jalan berliku sesuai realitas visual yang kuat, ujar Muharyadi.

Dalam tiga kali pameran terakhir selama tahun 2020 lalu di Taman Budaya Sumatera Barat, Jalan Diponegoro  31 Padang yakni pameran realitas sosial dengan tema “New Life” (26 Agustus-3 September) Martwan menampilkan karya berjudul Puncak Mandeh, 140×140 cm, akrilik, 2020 dan pameran kedua “New Eksplorasi” (13-19 September) dengan karya View Kubu Karambia, 160 x160 cm, akrilik, 2020 dan pameran ketiga “Diemnsion Space” (4-10 Oktober). Ketiganya kentara mengadopsi obyek gunung, hamparan sawah dan perbukitan dari obyek-obyek pemandangan alam yang diangkatnya. Lukisan-lukisannya menggambarkan fantastik pemandangan alam yang indah dan menawan. Yang semuanya merupakan refleksi dari keadaan alam sesungguhnya bernilai estetik hingga menghipnotis mata untuk melihat dan mengamati obyek-obyek pemandangan lukisan Martwan secara berulangkali dalam ketiga pameran tersebut, ujar Muharyadi memberi ilustrasi.

Dapat di duga pelukis Martwan yang telah puluhan kali berpameran di dalam dan luar negeri ini, terpikat dengan obyek-obyek pemandangan alam menunjukan sifat kelembutan mempsona dengan goresan yang lincah meski dalam sapuan kuasnya yang kadang lebar dalam merefresentasikan nilai-nilai arti sebuah pemandangan gunung, hamparan sawah, pohonan dengan tidak mengabaikan  cahaya alam yang dilukisnya meskipun ia tak menampik keromantikan pemandangan alam yang dilukisnya.

Lukisan Martwan M : Lembah Arau Payakumbuh

Begitu juga dengan karya-karya fotografi dari obyek pemandangan demi pemandangan yang diamatinya dalam beberapa tahun terakhir terlihat begitu mempesona dan mampu menghipnotis mata. Kita tahu obyek-obyek yang ditangkap kameranya memang sederhana,  sebagai lingkungan sosial tempat ia bermukim dan bertempat. Tetapi kemampuannya mengambil momen dan lokasi obyek patut kita acungkan jempol dengan beragam eksplorasi nuansa yang ditampilkan.

Martwan M kelahiran Bukittinggi, 2 Maret 1971 dalam kariernya baik sebagai staf pengajar di ISI Padangpanjang maupun sebagai perupa telah puluhan kali berpameran di dalam dan luar negeri diantaranya Beijing (2011) dan sejumlah negara tetangga Malaysia dan Singapura dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia tercatat mengikuti sejumlah pameran Pameran Seni Rupa pada ulang tahun Sasanitala di galeri ISI Yogyakarta, Pameran Seni Rupa kelompok Deka-Exi(S) “Visual Teritories di Jogja Nasional Museum, Yogyakarta, Pameran Seni Rupa “Art as Life Style” di Taman Budaya Yogyakarta beberaa tahun silam dan di Sumatera Barat sendiri terutama bersama Tambo Art Comunity.

Kini semua pengalaman, prestasi, suka dan duka hidup, tawa dan canda sesama hidupnya, hanya menjadi saksi bisu dari anak muda yang ulet, jujur dan tak pernah mengeluh selama hayatnya itu, terutama saat ia menderita sakit. Ia meningggalkan kita untuk selama-lamanya di usianya ke 50, Sabtu 14 Agustus 2021 di rumah kontarakannya  dan di makamkan di pemakaman Kampung halamannya, Baso, Agam, Sumatera Barat. Innalillahi Wainna illahi Rojiun. (FR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.