Jakarta, Semangatnews.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap fakta terbaru terkait kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Dalam investigasi awal, kereta jarak jauh tersebut diketahui melaju dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam sebelum menabrak rangkaian KRL yang berhenti di jalur stasiun.
Peristiwa tragis itu terjadi pada malam 27 April 2026 dan menjadi salah satu kecelakaan kereta paling fatal dalam dua dekade terakhir di Indonesia. Tabrakan tersebut menyebabkan belasan korban meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
KNKT menyebut masinis KA Argo Bromo Anggrek sempat melakukan pengereman darurat sebelum tabrakan terjadi. Namun jarak pengereman dinilai sudah terlalu dekat sehingga benturan tidak dapat dihindari.
Data logger yang diperiksa KNKT menunjukkan pengereman dilakukan sekitar 300 meter sebelum titik tabrakan. Sementara laporan lain menyebut masinis mulai mengurangi kecepatan setelah menerima informasi adanya gangguan di jalur.
Kecelakaan bermula ketika sebuah taksi mogok di perlintasan liar dekat Stasiun Bekasi Timur. Taksi tersebut kemudian tertabrak KRL dari arah berlawanan sehingga mengganggu operasional jalur kereta di lokasi kejadian.
Akibat insiden awal itu, KRL tujuan Cikarang tertahan lebih lama di Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi berhenti itulah rangkaian KRL kemudian dihantam KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan adanya dugaan anomali sinyal dan miskomunikasi dalam pengaturan perjalanan kereta sebelum kecelakaan terjadi. Investigasi menyeluruh masih dilakukan untuk memastikan penyebab utama insiden tersebut.
Benturan keras menyebabkan bagian belakang KRL mengalami kerusakan parah. Lokomotif KA Argo Bromo bahkan disebut masuk hingga menghancurkan sebagian gerbong terakhir KRL.
Proses evakuasi korban berlangsung dramatis sepanjang malam. Tim Basarnas, TNI, Polri, tenaga medis hingga relawan dikerahkan untuk mengevakuasi korban yang terjebak di dalam gerbong.
Pihak KAI memastikan masinis kedua kereta selamat meski mengalami luka-luka. Sementara para korban luka langsung dibawa ke sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi untuk mendapat penanganan intensif.
Hingga kini KNKT masih mendalami seluruh aspek teknis termasuk sistem persinyalan, komunikasi petugas, hingga prosedur operasi di lintasan Bekasi-Cikarang. Pemerintah menegaskan hasil investigasi akan menjadi dasar evaluasi besar demi mencegah kecelakaan serupa kembali terjadi.(*)

