Mengapa Generasi Z Dijuluki “Generasi Strawberry”?

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Istilah “Generasi Strawberry” kembali menjadi perbincangan saat menyebut kelompok muda yang lahir di rentang tahun akhir 1990‑an hingga awal 2010‑an, atau yang dikenal sebagai Generasi Z.

Sebutan ini dihubungkan dengan karakteristik yang dianggap mirip dengan buah stroberi: tampak menarik dan segar di luar, namun mudah rusak atau ‘tergores’ ketika mendapat tekanan.

Menurut sejumlah analisis, generasi muda saat ini tumbuh di lingkungan sarat teknologi, kemudahan dan kenyamanan, yang sekaligus menumbuhkan harapan tinggi dan kebutuhan akan pengakuan.

Di sisi positif, Generasi Z atau generasi yang disebut “strawberry” ini dikenal kreatif, terbuka terhadap ide‑baru dan cepat beradaptasi pada era digital.

Namun di sisi lain, kritik muncul bahwa mereka memiliki ketahanan yang lebih rendah terhadap tekanan kerja atau sosial, mudah tersinggung atau cepat merasa lelah ketika menghadapi tantangan yang berat.

Pola asuh dan kondisi sosial dianggap ikut membentuk fenomena ini: generasi yang sering mendapatkan perlindungan, fasilitas dan kemudahan sejak kecil, ketika masuk ke dunia nyata lalu menghadapi persaingan, dianggap kurang siap.

Media dan kampus memunculkan istilah ini sebagai pemicu refleksi: bukan semata label yang melekat, tetapi juga panggilan bagi generasi muda untuk memiliki ketangguhan dan kesiapan.

Di Indonesia, diskursus ini terlihat dalam pembahasan psikologi anak muda yang kadangkala mengalami stres, kecemasan atau kelelahan akibat tuntutan sosial dan kinerja yang tinggi.

Para pakar pun mendorong agar istilah tersebut tidak sekedar kritik, tetapi juga menjadi dasar untuk memikirkan bagaimana membangun generasi yang kreatif sekaligus tangguh, melalui pendidikan karakter, pelatihan resilien dan literasi digital.

Bagi generasi muda sendiri, meskipun istilah “strawberry” bisa terasa merendahkan, ini juga bisa menjadi panggilan positif agar mereka tidak hanya berkilau di permukaan tetapi juga kokoh di bawah tekanan.

Dengan memahami sisi positif dan tantangannya, maka julukan ini bisa jadi titik awal dialog antar generasi, agar Generasi Z tampil kreatif, adaptif dan juga kuat menghadapi realitas kehidupan yang kompleks.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.